Perdagangan Frekuensi Tinggi (singkatan dalam bahasa Inggris HFT, High-Frequency Trading) adalah strategi perdagangan yang memanfaatkan komputer untuk masuk dan keluar pasar dalam hitungan milidetik bahkan mikrodetik. Dibandingkan dengan investasi tradisional, ciri utama dari perdagangan frekuensi tinggi adalah kecepatan transaksi yang sangat cepat dan waktu pegang posisi yang sangat singkat, di mana trader meraup keuntungan dari menangkap fluktuasi harga kecil di pasar.
Di era sebelum teknologi komputer menyebar luas, hanya beberapa trader yang sangat cepat merespons yang mampu melakukan operasi “perdagangan frekuensi tinggi manual”. Namun seiring kemajuan teknologi, kecepatan reaksi manusia sudah tidak mampu bersaing dengan algoritma. Kini, market maker dan institusi lain menggunakan komputer berkecepatan tinggi untuk menyelesaikan banyak order dalam waktu singkat, sekaligus secara dinamis menyesuaikan harga, mengelola risiko, dan menjaga likuiditas pasar.
Sejarah perdagangan frekuensi tinggi sangat erat kaitannya dengan evolusi sistem perdagangan elektronik. Dari yang awalnya harus datang langsung ke bursa, lalu menggunakan telepon untuk mengirim order, hingga otomatisasi melalui program komputer saat ini, setiap langkah telah meningkatkan kecepatan dan skala transaksi secara signifikan. Trader awal menggunakan model matematika kompleks dan analisis statistik untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian harga antar pasar atau bursa, lalu melakukan arbitrase berdasarkan prinsip ‘selisih harga akan akhirnya menyatu’, sehingga menghasilkan keuntungan.
Sebagai contoh, jika harga Bitcoin di bursa AS lebih tinggi daripada di Jepang, trader arbitrase bisa menjual di AS dan membeli di Jepang, menunggu selisih harga menyempit, lalu menutup posisi untuk mendapatkan keuntungan. Mode arbitrase tanpa risiko ini pernah menjadi sumber utama keuntungan dari perdagangan frekuensi tinggi.
Teknik Lanjutan Perdagangan Frekuensi Tinggi
Selain arbitrase tradisional, perdagangan frekuensi tinggi juga berkembang ke teknik yang lebih kompleks. Beberapa pelaku akan terlebih dahulu membangun posisi, lalu menempatkan banyak order virtual beli atau jual untuk menciptakan ilusi “aktor besar yang optimis/ pesimis”, menarik investor lain mengikuti, sehingga harga terdorong naik atau turun. Setelah harga bergerak sesuai prediksi, trader akan segera membatalkan order virtual dan menutup posisi, meraup selisih harga. Dengan kata lain, perdagangan frekuensi tinggi tidak selalu harus benar-benar melakukan transaksi, melainkan memanfaatkan psikologi pasar dan informasi yang tidak merata untuk mengarahkan harga ke arah yang menguntungkan.
Seiring meningkatnya pangsa pasar perdagangan frekuensi tinggi di seluruh dunia, investor umum mungkin tidak perlu melakukan perdagangan frekuensi tinggi sendiri, tetapi penting untuk memahami logika operasinya agar bisa lebih memahami dinamika pasar.
Dampak Ganda Perdagangan Frekuensi Tinggi terhadap Pasar
Peran Positif: Peningkatan Likuiditas
Perdagangan frekuensi tinggi memang membawa manfaat bagi pasar. Meskipun melibatkan order virtual, sebagian besar transaksi tetap terjadi, sehingga meningkatkan likuiditas pasar. Aktivitas perdagangan yang besar memudahkan jual beli berbagai aset, dan volume yang tinggi juga menarik lebih banyak investor umum masuk ke pasar.
Risiko Negatif: Volatilitas yang Meningkat
Perdagangan frekuensi tinggi juga dapat memperbesar volatilitas pasar. Karena trader mengandalkan fluktuasi pasar sebagai sumber keuntungan, strategi mereka cenderung memperbesar kenaikan dan penurunan harga—apapun arah pasar bergerak, mereka tetap bisa meraih keuntungan. Ketika transaksi dilakukan otomatis oleh program, jika pasar bergejolak, keuntungan dan kerugian bisa diperbesar secara tak terbatas, menciptakan efek “mendorong kenaikan dan penurunan” yang memperparah kondisi pasar.
Pertimbangan Biaya: Pajak Pemerintah
Perdagangan frekuensi tinggi melibatkan volume transaksi yang besar, sehingga menimbulkan biaya komisi dan pajak transaksi yang besar pula. Meskipun biaya ini tidak signifikan bagi institusi besar yang punya dana melimpah, bagi pemerintah, ini adalah sumber pendapatan yang cukup besar. Oleh karena itu, pemerintah tidak melarang perdagangan frekuensi tinggi, malah memanfaatkan pajak sebagai bentuk win-win.
Pelopor Investasi Kuantitatif: Kisah Legendaris Jim Simons
Dalam pembahasan tentang perdagangan frekuensi tinggi dan investasi kuantitatif, tidak lengkap tanpa menyebut matematikawan Jim Simons. Simons lahir tahun 1938, dan sudah meraih gelar doktor matematika saat berusia 23 tahun. Sepanjang kariernya, ia pernah bekerja di bidang intelijen sebagai ahli pemecah kode, kemudian menjadi pakar geometri di dunia akademik, tetapi akhirnya memutuskan mengaplikasikan bakat matematikanya ke dunia investasi.
Pada tahun 1982, Simons mendirikan Renaissance Technologies dan membangun dana hedge Medallion Fund. Dana ini menghasilkan rata-rata keuntungan tahunan sebesar 38,5% dari 1989 hingga 2006, jauh melampaui kinerja hedge fund tradisional. Simons dikenal sebagai “raja investasi kuantitatif”.
Kunci keberhasilannya adalah menggunakan model matematika dan statistik yang kompleks untuk menangkap fluktuasi harga kecil di pasar. Seiring perkembangan perusahaan, ia mengumpulkan ratusan ahli terbaik dan membangun sistem perdagangan otomatis—yang didukung oleh lebih dari 10 juta baris kode program, sehingga beroperasi secara efisien tanpa banyak campur tangan manusia.
Hingga akhir 2019, Renaissance mengelola aset sebesar 130,1 miliar dolar AS. Bahkan saat pasar global sangat volatile di tahun 2020, dana ini tetap tumbuh 39%, dengan laba bersih setelah biaya manajemen sebesar 24%. Kisah Simons menunjukkan kekuatan perdagangan kuantitatif dan frekuensi tinggi, sekaligus menegaskan bahwa bidang ini sangat bergantung pada matematika, komputer, dan modal yang besar.
Tiga Strategi Utama Perdagangan Frekuensi Tinggi
1. Strategi Market Making
Market making adalah teknik paling umum dalam perdagangan frekuensi tinggi. Trader terus-menerus menempatkan dan membatalkan order untuk menciptakan ilusi bahwa aset tersebut aktif diperdagangkan, menarik partisipan lain untuk ikut, sehingga harga terdorong naik atau turun. Setelah itu, trader akan segera menutup posisi dan meraih keuntungan. Teknik ini mirip dengan proses market maker saat IPO, tetapi dilakukan dengan kecepatan dan frekuensi yang jauh lebih tinggi.
2. Strategi Arbitrase
Arbitrase memanfaatkan selisih harga pada instrumen yang sama di berbagai bursa, selisih harga antar waktu untuk instrumen yang sama, atau selisih antara futures dan spot. Trader memperkirakan bahwa selisih ini akan menyatu, lalu melakukan beli di harga rendah dan jual di harga tinggi, atau sebaliknya, untuk mendapatkan keuntungan tanpa risiko atau risiko rendah.
3. Strategi Tren
Tren mengikuti arah pasar, dan trader cukup menangkap bagian tengah tren untuk meraih keuntungan. Biasanya, mereka akan mengambil peluang saat perusahaan mengumumkan berita besar—misalnya, setelah laporan keuangan, mereka membeli secara besar-besaran, atau saat muncul berita negatif, mereka melakukan short secara besar-besaran, untuk memperkuat pergerakan pasar. Berbeda dengan market making, tren trading didasarkan pada kejadian nyata atau sentimen pasar, bukan manipulasi.
Risiko Utama Perdagangan Frekuensi Tinggi
Risiko Pertama: Ujian Psikologi dan Disiplin
Perdagangan frekuensi tinggi menuntut trader memiliki kekuatan mental yang luar biasa dan disiplin ketat. Karena harus membuat keputusan dalam waktu sangat singkat, ragu-ragu atau emosi bisa menyebabkan kerugian besar. Banyak trader terjebak dalam pola “menambah posisi saat rugi”—berusaha memperbaiki kerugian dengan menambah dana, tetapi malah semakin dalam kerugian.
Risiko Kedua: Perangkat Keras dan Koneksi Internet
Inti dari perdagangan frekuensi tinggi adalah bersaing dalam mendapatkan “harga yang salah” karena perbedaan waktu dan faktor lain. Banyak pihak bersaing memperebutkan peluang ini, sehingga perangkat yang canggih dan koneksi internet yang stabil sangat penting. Delay bahkan milidetik bisa menyebabkan gagal transaksi atau kerugian akibat slippage. Dalam kompetisi ini, perangkat yang tertinggal akan langsung kalah dari pesaing.
Risiko Ketiga: Biaya Transaksi
Karena frekuensi transaksi sangat tinggi, biaya komisi dan pajak bisa menggerogoti sebagian besar keuntungan. Banyak investor di pasar saham Indonesia yang mencoba high-frequency trading, tetapi ternyata keuntungan mereka tidak mampu menutupi biaya broker dan bursa. Oleh karena itu, memilih platform dengan biaya rendah sangat penting.
Pasar Mana yang Paling Cocok untuk Perdagangan Frekuensi Tinggi?
Pasar yang cocok untuk high-frequency trading harus memiliki dua karakteristik utama:
Karakteristik Pertama: Volume dan Likuiditas yang Cukup
Perdagangan frekuensi tinggi membutuhkan masuk dan keluar posisi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Jika pasar kecil atau likuiditas rendah, trader akan kesulitan mengeksekusi order, slippage besar, bahkan tidak bisa transaksi sama sekali. Selain itu, pasar harus cukup volatil agar peluang keuntungan cukup besar. Semakin besar volume, semakin likuid, dan semakin volatil pasar, semakin cocok untuk high-frequency trading.
Karakteristik Kedua: Lingkungan Pajak dan Biaya Rendah
Karena melibatkan volume transaksi besar, biaya dan pajak akan menjadi bagian besar dari biaya operasional. Jika biaya terlalu tinggi, keuntungan kecil dari selisih harga tidak akan menutupi biaya, bahkan bisa merugi. Oleh karena itu, pasar dengan biaya rendah sangat menguntungkan bagi trader frekuensi tinggi.
Berdasarkan kriteria tersebut, pasar saham AS adalah salah satu yang paling cocok di dunia untuk high-frequency trading. Pasar ini memiliki basis partisipan yang besar—tidak hanya dari AS, tetapi juga dari seluruh dunia. Volume transaksi harian sangat besar, misalnya, volume harian Tesla (176,36 miliar dolar AS) setara dengan sekitar 2000 miliar dolar Taiwan dari seluruh transaksi harian pasar saham Taiwan.
Selain itu, biaya transaksi dan pajak di pasar AS jauh lebih rendah dibandingkan Taiwan: pajak transaksi 0,00051%, dan biaya komisi 0 dolar; sedangkan di Taiwan, pajak transaksi 0,3% (0,15% untuk day trading), dan biaya komisi 0,1425%. Perbedaan besar ini menjadi keunggulan kompetitif utama bagi trader frekuensi tinggi.
Selain itu, pasar AS menyediakan jam perdagangan yang lebih panjang. Pasar Taiwan buka dari pukul 08:45 sampai 13:45, sementara pasar AS termasuk pre-market, market hours, dan after-hours, sehingga peserta dari berbagai zona waktu dapat berpartisipasi sesuai waktu mereka, menambah peluang trading.
Saran Praktis untuk Melakukan Perdagangan Frekuensi Tinggi
Jika Anda serius ingin terjun ke dunia high-frequency trading, berikut poin penting yang harus dipahami:
1. Pilih pasar dengan likuiditas tinggi
High-frequency trading sangat bergantung pada kedalaman pasar. Disarankan fokus pada pasar saham AS yang volume harian mencapai miliaran dolar, mampu menampung banyak transaksi dari trader frekuensi tinggi.
2. Perhatikan pengelolaan biaya transaksi
Keuntungan dari high-frequency trading biasanya sangat kecil, sehingga biaya transaksi menjadi faktor penentu utama. Penting untuk menerapkan stop-loss dan take-profit secara ketat. Pilih platform dengan biaya terendah agar hasilnya maksimal.
3. Bangun sistem manajemen risiko yang lengkap
Sebelum mulai trading nyata, lakukan pengujian strategi melalui simulasi. Banyak platform menyediakan akun demo dan dana virtual agar trader bisa belajar dan mengasah strategi tanpa risiko kehilangan modal asli.
4. Terus belajar dan sesuaikan strategi
Pasar high-frequency sangat dinamis, strategi harus terus dioptimalkan sesuai kondisi pasar. Selalu belajar dan perbaiki algoritma serta logika trading Anda.
Penutup
Perdagangan frekuensi tinggi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pengetahuan teknis mendalam, kekuatan mental, perangkat keras canggih, dan modal yang cukup. Trader sukses biasanya adalah mereka yang berpengalaman, disiplin, didukung alat yang memadai, dan beroperasi di lingkungan biaya rendah.
Bagi kebanyakan investor umum, memahami logika kerja high-frequency trading jauh lebih penting daripada ikut langsung. Ini membantu Anda memahami dinamika pasar, menghindari risiko, dan membuat keputusan investasi yang lebih bijak. Jika tertarik, mulailah dari edukasi yang cukup dan eksperimen kecil, lalu secara bertahap bangun pengalaman, jangan langsung terjun tanpa persiapan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Analisis Mendalam Perdagangan Frekuensi Tinggi: Strategi, Risiko, dan Penyesuaian Pasar
Apa itu Perdagangan Frekuensi Tinggi?
Perdagangan Frekuensi Tinggi (singkatan dalam bahasa Inggris HFT, High-Frequency Trading) adalah strategi perdagangan yang memanfaatkan komputer untuk masuk dan keluar pasar dalam hitungan milidetik bahkan mikrodetik. Dibandingkan dengan investasi tradisional, ciri utama dari perdagangan frekuensi tinggi adalah kecepatan transaksi yang sangat cepat dan waktu pegang posisi yang sangat singkat, di mana trader meraup keuntungan dari menangkap fluktuasi harga kecil di pasar.
Di era sebelum teknologi komputer menyebar luas, hanya beberapa trader yang sangat cepat merespons yang mampu melakukan operasi “perdagangan frekuensi tinggi manual”. Namun seiring kemajuan teknologi, kecepatan reaksi manusia sudah tidak mampu bersaing dengan algoritma. Kini, market maker dan institusi lain menggunakan komputer berkecepatan tinggi untuk menyelesaikan banyak order dalam waktu singkat, sekaligus secara dinamis menyesuaikan harga, mengelola risiko, dan menjaga likuiditas pasar.
Sejarah perdagangan frekuensi tinggi sangat erat kaitannya dengan evolusi sistem perdagangan elektronik. Dari yang awalnya harus datang langsung ke bursa, lalu menggunakan telepon untuk mengirim order, hingga otomatisasi melalui program komputer saat ini, setiap langkah telah meningkatkan kecepatan dan skala transaksi secara signifikan. Trader awal menggunakan model matematika kompleks dan analisis statistik untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian harga antar pasar atau bursa, lalu melakukan arbitrase berdasarkan prinsip ‘selisih harga akan akhirnya menyatu’, sehingga menghasilkan keuntungan.
Sebagai contoh, jika harga Bitcoin di bursa AS lebih tinggi daripada di Jepang, trader arbitrase bisa menjual di AS dan membeli di Jepang, menunggu selisih harga menyempit, lalu menutup posisi untuk mendapatkan keuntungan. Mode arbitrase tanpa risiko ini pernah menjadi sumber utama keuntungan dari perdagangan frekuensi tinggi.
Teknik Lanjutan Perdagangan Frekuensi Tinggi
Selain arbitrase tradisional, perdagangan frekuensi tinggi juga berkembang ke teknik yang lebih kompleks. Beberapa pelaku akan terlebih dahulu membangun posisi, lalu menempatkan banyak order virtual beli atau jual untuk menciptakan ilusi “aktor besar yang optimis/ pesimis”, menarik investor lain mengikuti, sehingga harga terdorong naik atau turun. Setelah harga bergerak sesuai prediksi, trader akan segera membatalkan order virtual dan menutup posisi, meraup selisih harga. Dengan kata lain, perdagangan frekuensi tinggi tidak selalu harus benar-benar melakukan transaksi, melainkan memanfaatkan psikologi pasar dan informasi yang tidak merata untuk mengarahkan harga ke arah yang menguntungkan.
Seiring meningkatnya pangsa pasar perdagangan frekuensi tinggi di seluruh dunia, investor umum mungkin tidak perlu melakukan perdagangan frekuensi tinggi sendiri, tetapi penting untuk memahami logika operasinya agar bisa lebih memahami dinamika pasar.
Dampak Ganda Perdagangan Frekuensi Tinggi terhadap Pasar
Peran Positif: Peningkatan Likuiditas
Perdagangan frekuensi tinggi memang membawa manfaat bagi pasar. Meskipun melibatkan order virtual, sebagian besar transaksi tetap terjadi, sehingga meningkatkan likuiditas pasar. Aktivitas perdagangan yang besar memudahkan jual beli berbagai aset, dan volume yang tinggi juga menarik lebih banyak investor umum masuk ke pasar.
Risiko Negatif: Volatilitas yang Meningkat
Perdagangan frekuensi tinggi juga dapat memperbesar volatilitas pasar. Karena trader mengandalkan fluktuasi pasar sebagai sumber keuntungan, strategi mereka cenderung memperbesar kenaikan dan penurunan harga—apapun arah pasar bergerak, mereka tetap bisa meraih keuntungan. Ketika transaksi dilakukan otomatis oleh program, jika pasar bergejolak, keuntungan dan kerugian bisa diperbesar secara tak terbatas, menciptakan efek “mendorong kenaikan dan penurunan” yang memperparah kondisi pasar.
Pertimbangan Biaya: Pajak Pemerintah
Perdagangan frekuensi tinggi melibatkan volume transaksi yang besar, sehingga menimbulkan biaya komisi dan pajak transaksi yang besar pula. Meskipun biaya ini tidak signifikan bagi institusi besar yang punya dana melimpah, bagi pemerintah, ini adalah sumber pendapatan yang cukup besar. Oleh karena itu, pemerintah tidak melarang perdagangan frekuensi tinggi, malah memanfaatkan pajak sebagai bentuk win-win.
Pelopor Investasi Kuantitatif: Kisah Legendaris Jim Simons
Dalam pembahasan tentang perdagangan frekuensi tinggi dan investasi kuantitatif, tidak lengkap tanpa menyebut matematikawan Jim Simons. Simons lahir tahun 1938, dan sudah meraih gelar doktor matematika saat berusia 23 tahun. Sepanjang kariernya, ia pernah bekerja di bidang intelijen sebagai ahli pemecah kode, kemudian menjadi pakar geometri di dunia akademik, tetapi akhirnya memutuskan mengaplikasikan bakat matematikanya ke dunia investasi.
Pada tahun 1982, Simons mendirikan Renaissance Technologies dan membangun dana hedge Medallion Fund. Dana ini menghasilkan rata-rata keuntungan tahunan sebesar 38,5% dari 1989 hingga 2006, jauh melampaui kinerja hedge fund tradisional. Simons dikenal sebagai “raja investasi kuantitatif”.
Kunci keberhasilannya adalah menggunakan model matematika dan statistik yang kompleks untuk menangkap fluktuasi harga kecil di pasar. Seiring perkembangan perusahaan, ia mengumpulkan ratusan ahli terbaik dan membangun sistem perdagangan otomatis—yang didukung oleh lebih dari 10 juta baris kode program, sehingga beroperasi secara efisien tanpa banyak campur tangan manusia.
Hingga akhir 2019, Renaissance mengelola aset sebesar 130,1 miliar dolar AS. Bahkan saat pasar global sangat volatile di tahun 2020, dana ini tetap tumbuh 39%, dengan laba bersih setelah biaya manajemen sebesar 24%. Kisah Simons menunjukkan kekuatan perdagangan kuantitatif dan frekuensi tinggi, sekaligus menegaskan bahwa bidang ini sangat bergantung pada matematika, komputer, dan modal yang besar.
Tiga Strategi Utama Perdagangan Frekuensi Tinggi
1. Strategi Market Making
Market making adalah teknik paling umum dalam perdagangan frekuensi tinggi. Trader terus-menerus menempatkan dan membatalkan order untuk menciptakan ilusi bahwa aset tersebut aktif diperdagangkan, menarik partisipan lain untuk ikut, sehingga harga terdorong naik atau turun. Setelah itu, trader akan segera menutup posisi dan meraih keuntungan. Teknik ini mirip dengan proses market maker saat IPO, tetapi dilakukan dengan kecepatan dan frekuensi yang jauh lebih tinggi.
2. Strategi Arbitrase
Arbitrase memanfaatkan selisih harga pada instrumen yang sama di berbagai bursa, selisih harga antar waktu untuk instrumen yang sama, atau selisih antara futures dan spot. Trader memperkirakan bahwa selisih ini akan menyatu, lalu melakukan beli di harga rendah dan jual di harga tinggi, atau sebaliknya, untuk mendapatkan keuntungan tanpa risiko atau risiko rendah.
3. Strategi Tren
Tren mengikuti arah pasar, dan trader cukup menangkap bagian tengah tren untuk meraih keuntungan. Biasanya, mereka akan mengambil peluang saat perusahaan mengumumkan berita besar—misalnya, setelah laporan keuangan, mereka membeli secara besar-besaran, atau saat muncul berita negatif, mereka melakukan short secara besar-besaran, untuk memperkuat pergerakan pasar. Berbeda dengan market making, tren trading didasarkan pada kejadian nyata atau sentimen pasar, bukan manipulasi.
Risiko Utama Perdagangan Frekuensi Tinggi
Risiko Pertama: Ujian Psikologi dan Disiplin
Perdagangan frekuensi tinggi menuntut trader memiliki kekuatan mental yang luar biasa dan disiplin ketat. Karena harus membuat keputusan dalam waktu sangat singkat, ragu-ragu atau emosi bisa menyebabkan kerugian besar. Banyak trader terjebak dalam pola “menambah posisi saat rugi”—berusaha memperbaiki kerugian dengan menambah dana, tetapi malah semakin dalam kerugian.
Risiko Kedua: Perangkat Keras dan Koneksi Internet
Inti dari perdagangan frekuensi tinggi adalah bersaing dalam mendapatkan “harga yang salah” karena perbedaan waktu dan faktor lain. Banyak pihak bersaing memperebutkan peluang ini, sehingga perangkat yang canggih dan koneksi internet yang stabil sangat penting. Delay bahkan milidetik bisa menyebabkan gagal transaksi atau kerugian akibat slippage. Dalam kompetisi ini, perangkat yang tertinggal akan langsung kalah dari pesaing.
Risiko Ketiga: Biaya Transaksi
Karena frekuensi transaksi sangat tinggi, biaya komisi dan pajak bisa menggerogoti sebagian besar keuntungan. Banyak investor di pasar saham Indonesia yang mencoba high-frequency trading, tetapi ternyata keuntungan mereka tidak mampu menutupi biaya broker dan bursa. Oleh karena itu, memilih platform dengan biaya rendah sangat penting.
Pasar Mana yang Paling Cocok untuk Perdagangan Frekuensi Tinggi?
Pasar yang cocok untuk high-frequency trading harus memiliki dua karakteristik utama:
Karakteristik Pertama: Volume dan Likuiditas yang Cukup
Perdagangan frekuensi tinggi membutuhkan masuk dan keluar posisi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Jika pasar kecil atau likuiditas rendah, trader akan kesulitan mengeksekusi order, slippage besar, bahkan tidak bisa transaksi sama sekali. Selain itu, pasar harus cukup volatil agar peluang keuntungan cukup besar. Semakin besar volume, semakin likuid, dan semakin volatil pasar, semakin cocok untuk high-frequency trading.
Karakteristik Kedua: Lingkungan Pajak dan Biaya Rendah
Karena melibatkan volume transaksi besar, biaya dan pajak akan menjadi bagian besar dari biaya operasional. Jika biaya terlalu tinggi, keuntungan kecil dari selisih harga tidak akan menutupi biaya, bahkan bisa merugi. Oleh karena itu, pasar dengan biaya rendah sangat menguntungkan bagi trader frekuensi tinggi.
Berdasarkan kriteria tersebut, pasar saham AS adalah salah satu yang paling cocok di dunia untuk high-frequency trading. Pasar ini memiliki basis partisipan yang besar—tidak hanya dari AS, tetapi juga dari seluruh dunia. Volume transaksi harian sangat besar, misalnya, volume harian Tesla (176,36 miliar dolar AS) setara dengan sekitar 2000 miliar dolar Taiwan dari seluruh transaksi harian pasar saham Taiwan.
Selain itu, biaya transaksi dan pajak di pasar AS jauh lebih rendah dibandingkan Taiwan: pajak transaksi 0,00051%, dan biaya komisi 0 dolar; sedangkan di Taiwan, pajak transaksi 0,3% (0,15% untuk day trading), dan biaya komisi 0,1425%. Perbedaan besar ini menjadi keunggulan kompetitif utama bagi trader frekuensi tinggi.
Selain itu, pasar AS menyediakan jam perdagangan yang lebih panjang. Pasar Taiwan buka dari pukul 08:45 sampai 13:45, sementara pasar AS termasuk pre-market, market hours, dan after-hours, sehingga peserta dari berbagai zona waktu dapat berpartisipasi sesuai waktu mereka, menambah peluang trading.
Saran Praktis untuk Melakukan Perdagangan Frekuensi Tinggi
Jika Anda serius ingin terjun ke dunia high-frequency trading, berikut poin penting yang harus dipahami:
1. Pilih pasar dengan likuiditas tinggi
High-frequency trading sangat bergantung pada kedalaman pasar. Disarankan fokus pada pasar saham AS yang volume harian mencapai miliaran dolar, mampu menampung banyak transaksi dari trader frekuensi tinggi.
2. Perhatikan pengelolaan biaya transaksi
Keuntungan dari high-frequency trading biasanya sangat kecil, sehingga biaya transaksi menjadi faktor penentu utama. Penting untuk menerapkan stop-loss dan take-profit secara ketat. Pilih platform dengan biaya terendah agar hasilnya maksimal.
3. Bangun sistem manajemen risiko yang lengkap
Sebelum mulai trading nyata, lakukan pengujian strategi melalui simulasi. Banyak platform menyediakan akun demo dan dana virtual agar trader bisa belajar dan mengasah strategi tanpa risiko kehilangan modal asli.
4. Terus belajar dan sesuaikan strategi
Pasar high-frequency sangat dinamis, strategi harus terus dioptimalkan sesuai kondisi pasar. Selalu belajar dan perbaiki algoritma serta logika trading Anda.
Penutup
Perdagangan frekuensi tinggi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pengetahuan teknis mendalam, kekuatan mental, perangkat keras canggih, dan modal yang cukup. Trader sukses biasanya adalah mereka yang berpengalaman, disiplin, didukung alat yang memadai, dan beroperasi di lingkungan biaya rendah.
Bagi kebanyakan investor umum, memahami logika kerja high-frequency trading jauh lebih penting daripada ikut langsung. Ini membantu Anda memahami dinamika pasar, menghindari risiko, dan membuat keputusan investasi yang lebih bijak. Jika tertarik, mulailah dari edukasi yang cukup dan eksperimen kecil, lalu secara bertahap bangun pengalaman, jangan langsung terjun tanpa persiapan.