
Minyak mentah Brent telah turun sekitar 8% dalam beberapa minggu terakhir menjadi sekitar 116 dolar AS per barel, sementara emas rebound ke level tertinggi historis sekitar 4.550 dolar AS per ons. Divergensi langka di pasar komoditas ini dipandang oleh analis top sebagai sinyal diagnosis pasar yang paling khas dari stagflasi. Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar 71.043 dolar AS, dan data on-chain menunjukkan tren yang secara perlahan menjauh dari aset terkait minyak, beralih mengikuti logika valuasi emas.
(
)
(Sumber: Macro Trends)
Rasio emas terhadap minyak baru-baru ini melonjak tajam, tren ini dalam sejarah sering kali berkaitan dengan pergeseran paradigma makro besar, bukan sekadar koreksi pasar rutin. Analis Bloomberg menafsirkan ini sebagai “rotasi perlindungan struktural” dan bukan perdagangan taktis—ketika harga minyak turun karena kekhawatiran resesi ekonomi, dan emas naik karena kekhawatiran depresiasi mata uang, pasar memandang realitas makro yang sama: tekanan ganda inflasi dan resesi yang berlangsung bersamaan.
Siklus stagflasi tahun 1970-an adalah referensi sejarah terpenting: saat itu harga emas naik lebih dari 2000%, sementara saham terkait minyak akhirnya jatuh tajam karena ledakan permintaan. Brent crude telah turun sekitar 8% dari puncaknya baru-baru ini, sementara emas mendekati level tertinggi historis, dan pola divergensi ini menarik perhatian tinggi dari para analis.
Suku bunga Federal Reserve 3,50%—3,75%: Menunjukkan Federal Reserve enggan mengorbankan pengendalian inflasi demi mendukung pertumbuhan, memberikan latar kebijakan moneter untuk jebakan stagflasi yang klasik.
Arus keluar dana ETF Bitcoin mingguan sebesar 7,08 miliar dolar AS: Sikap hawkish Federal Reserve menyebabkan institusi melakukan profit taking di ETF, tetapi data akumulasi spot on-chain menunjukkan tren berlawanan, yaitu akumulasi struktural di bawah permukaan.
Rasio emas terhadap minyak melonjak: Perbedaan valuasi antara aset dengan pasokan terbatas (emas, Bitcoin) dan aset sensitif permintaan (minyak), mencerminkan kekhawatiran struktural pasar terhadap daya beli aset berbasis fiat.
Dalam lingkungan stagflasi, aset berbasis fiat mampu menyerap tekanan ganda (inflasi yang mengikis daya beli + perlambatan pertumbuhan yang menekan valuasi), sementara aset dengan pasokan keras sulit dikompresi secara seimbang—ini adalah logika mendasar mengapa emas dan Bitcoin diperlakukan berbeda dalam pasar saat ini.
(
)
(Sumber: Zerocap)
Data on-chain dari Zerocap menunjukkan bahwa meskipun arus keluar dana ETF mencerminkan sentimen bearish, Bitcoin tetap menunjukkan akumulasi besar-besaran di pasar spot. Divergensi ini, di mana investor institusional mengurangi posisi di instrumen paper dan tetap mengakumulasi di on-chain, adalah sinyal struktural penting yang perlu diperhatikan.
Rasio Bitcoin terhadap emas tetap stabil secara luar biasa dalam pasar ini, berbeda dari pola penurunan bersamaan Bitcoin dan aset risiko lain seperti saham pada 2022. Data dari majalah Forbes mendukung perubahan ini: saat Bitcoin kembali ke 71.043 dolar AS, aset risiko tradisional tetap menghadapi tekanan.
Institusi seperti Strategy, Metaplanet, dan American Bitcoin Corp terus memperbesar posisi Bitcoin dalam siklus ini, menunjukkan bahwa modal cerdas mulai memandang Bitcoin sebagai alat lindung nilai makro dengan pasokan tetap, bukan sebagai aset risiko spekulatif.
Stagflasi adalah kondisi makro di mana inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi stagnan terjadi bersamaan. Kenaikan emas menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan penurunan daya beli mata uang; penurunan harga minyak mencerminkan berkurangnya permintaan dan ekspektasi resesi. Kedua kondisi ini muncul bersamaan, secara akurat menggambarkan pola stagflasi di mana pertumbuhan melambat tetapi harga tetap tinggi.
Bitcoin dan emas memiliki karakteristik bersama berupa batas pasokan tetap (21 juta koin), sehingga berpotensi berfungsi sebagai lindung nilai saat daya beli fiat menurun. Minyak adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap permintaan, dan dalam resesi, permintaan menurun sehingga harga turun. Perbedaan karakteristik pasokan ini membuat valuasi Bitcoin dalam stagflasi lebih dekat dengan emas.
Kebijakan hawkish dengan suku bunga 3,50%—3,75% menunjukkan prioritas mengendalikan inflasi daripada merangsang pertumbuhan. Meskipun membantu mengendalikan inflasi, kebijakan ini juga menekan permintaan dan investasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan memperburuk sisi lain dari pola stagflasi—yaitu stagnasi ekonomi—tanpa menyelesaikan masalah inflasi.