
Emas mengalami penurunan mingguan terbesar sejak tahun 1983 minggu ini, dengan harga turun sekitar 600 dolar dalam beberapa hari saja. Penurunan drastis ini terjadi di saat ketegangan geopolitik sedang memuncak, dan teori tradisional berpendapat bahwa kondisi seperti ini seharusnya mendukung harga emas. Para analis menunjukkan bahwa penyebab utama penurunan ini bukanlah hilangnya permintaan safe haven, melainkan penjualan paksa dari posisi perdagangan institusional yang terlalu padat akibat likuiditas yang mengering, yang mendorong para investor cerdas untuk mulai melakukan rebalancing portofolio mereka.
(Sumber: LeadLag Report)
Nick Paklin, pendiri Coin Bureau, secara langsung mengungkapkan konflik inti: “Emas baru saja mengalami minggu terburuk sejak tahun 1983, dan itu pun di tengah masa perang. Harga emas di 5.500 dolar bukan didasarkan pada permintaan safe haven, melainkan pada perdagangan—perdagangan yang sangat padat.”
Fenomena ini memiliki latar belakang struktural. Setelah aset Rusia dibekukan pada 2022, bank-bank sentral di berbagai negara mulai meningkatkan cadangan emas secara besar-besaran, memicu institusi mengikuti, dan mendorong masuknya dana ETF ke level tertinggi sepanjang sejarah. Namun, tren ini mulai berbalik: perang memaksa bank-bank sentral menggunakan cadangan devisa mereka alih-alih menambah lagi, dan negara-negara Teluk yang bergantung pada ekspor minyak yang menghadapi pembatasan ekspor mungkin beralih dari pembeli menjadi penjual, mengendurkan pilar permintaan sebelumnya.
Sementara itu, imbal hasil obligasi AS 10 tahun melonjak tajam di tengah kekhawatiran inflasi, sinyal hawkish dari bank sentral, dan penutupan posisi leverage, memaksa investor institusional untuk mengurangi risiko secara cepat. Menurut data Kobeissi Letter, sentimen bearish di kalangan retail melonjak ke 52%, tertinggi sejak pertengahan 2025.
Pasar Swasta: Kantor keluarga (family office) secara signifikan beralih ke aset pasar swasta seperti ekuitas swasta dan kredit swasta. Jack Claver, profesional senior di kantor keluarga, menyatakan: “Kantor keluarga tidak lagi membuang waktu di saham dan obligasi dasar, karena pengembalian nyata tersembunyi di sana.” Pasar swasta, dengan karakteristik harga yang tidak transparan dan korelasi rendah dengan pasar publik, justru menjadi pilihan menarik dalam krisis likuiditas saat ini.
Pasar Berkembang: Claver juga menunjukkan bahwa dana mengalir ke pasar berkembang, yang dipandang sebagai jalur untuk potensi pertumbuhan jangka panjang yang lebih menarik, terutama karena valuasi di pasar maju terlalu tinggi (Indeks Buffett sekitar 220% dari PDB).
Aset Digital: Kripto kembali masuk ke dalam pandangan para investor cerdas. Analis Chad Stangerber menyatakan bahwa, seiring penurunan emas, “perputaran modal akan mulai beralih ke kelas aset lain,” dan menilai bahwa kripto “masih undervalued.”
Aset digital menunjukkan karakter ganda dalam kondisi saat ini: dalam fase pasar “jual dulu, tukar nanti,” aset utama seperti Bitcoin yang berkorelasi sekitar 89% dengan indeks S&P 500 tidak luput dari penjualan pasif; namun, banyak analis percaya bahwa setelah proses deleveraging institusional selesai, kripto—dengan akses masuk yang rendah, likuiditas 24 jam, dan korelasi jangka panjang yang lebih rendah terhadap sistem keuangan tradisional—berpotensi menjadi salah satu target utama untuk rebalancing modal.
Pergerakan pasar saat ini menunjukkan bahwa minggu terburuk selama 43 tahun bagi emas tidak hanya memecahkan level harga, tetapi juga merobohkan fondasi psikologis pasar yang selama ini mengaitkan gejolak geopolitik secara otomatis dengan kenaikan emas. Ini berarti narasi safe haven berikutnya mungkin harus dibangun di atas aset yang berbeda.
Penurunan emas kali ini terutama disebabkan oleh penjualan paksa akibat krisis likuiditas, bukan karena investor secara aktif meninggalkan emas. Setelah konflik Rusia-Ukraina, bank-bank sentral secara besar-besaran menambah cadangan emas yang mendorong institusi mengikuti, menciptakan perdagangan yang terlalu padat. Ketika perang memaksa negara-negara menggunakan cadangan devisa dan imbal hasil obligasi AS melonjak tajam yang memicu penutupan posisi leverage, institusi lebih dulu menjual posisi yang paling menguntungkan—yang justru adalah emas.
Menurut laporan, dana institusional termasuk kantor keluarga sedang beralih ke tiga bidang utama: pasar ekuitas dan kredit swasta (untuk mencari pengembalian yang tidak berkorelasi), pasar berkembang (dengan valuasi lebih menarik), dan aset digital (yang diharapkan menjadi penerima manfaat dari perputaran modal).
Saat ini belum ada kesimpulan pasti. Penurunan ini lebih mencerminkan reset jangka pendek yang didorong oleh likuiditas, bukan keruntuhan fundamental dari logika safe haven emas. Beberapa analis berpendapat bahwa setelah penjualan paksa selesai, emas tetap berpotensi mendapatkan manfaat dari kebutuhan diversifikasi cadangan bank sentral, tetapi perlu menunggu struktur pasar kembali stabil untuk memastikan hal tersebut.