Dalam periode siklus perubahan suku bunga, beberapa aset yang biasanya diabaikan kembali menjadi pusat perhatian, terutama saham preferen yang merupakan instrumen yang menciptakan keseimbangan antara keamanan dan imbal hasil. Sementara itu, saham biasa tetap menjadi pemain utama dalam penciptaan kekayaan jangka panjang.
Struktur Modal dan Urutan Hak
Ketika perusahaan membutuhkan dana, ada berbagai cara untuk mendapatkan uang, baik melalui pinjaman, penerbitan obligasi, maupun penerbitan saham. Inilah yang disebut “struktur modal” dan pentingnya dalam menilai risiko.
Dalam kasus perusahaan mengalami krisis, saham preferen akan berada di urutan yang lebih tinggi daripada saham biasa dalam pembagian aset tersisa. Artinya, jika terjadi likuidasi, kreditor akan mendapatkan kembali uangnya terlebih dahulu, kemudian pemegang saham preferen, dan terakhir pemegang saham biasa.
Saham Biasa: Instrumen Pencipta Kekayaan
Ketika orang umumnya berbicara tentang “saham”, mereka biasanya merujuk pada Saham Biasa (Common Stock), yang merupakan instrumen yang menunjukkan kepemilikan nyata terhadap perusahaan.
Memiliki saham biasa adalah seperti berinvestasi di masa depan perusahaan. Jika perusahaan tumbuh dan menghasilkan laba, harga saham dapat meningkat berkali-kali lipat, menjadikannya jalur yang kuat untuk penciptaan kekayaan.
Hak dan Imbal Hasil
Pemegang saham biasa memiliki berbagai hak, termasuk hak suara, pengambilan keputusan dalam rapat pemegang saham, dan menerima dividen sesuai laba perusahaan. Namun, dividen ini tidak tetap; tergantung pada laba perusahaan.
Risiko yang Menyertainya
Dari sisi risiko, pemegang saham biasa berada di urutan terbawah dalam struktur modal. Dalam kasus kebangkrutan, mereka biasanya kehilangan seluruh modal atau hanya tersisa sebagian kecil.
Saham Preferen: Imbal Hasil yang Stabil
Saham preferen (Preferred Stock) adalah instrumen jenis Hybrid Security yang menggabungkan fitur obligasi dan saham biasa.
Secara hukum, pemegang saham preferen dianggap sebagai pemilik perusahaan, tetapi secara praktik, mereka berfungsi seperti kreditor yang meminjamkan uang kepada perusahaan dengan imbalan arus kas yang tetap.
Keunggulan Saham Preferen
Keuntungan utama saham preferen ada dua:
Hak menerima dividen terlebih dahulu: Pemegang saham preferen menerima dividen tetap (seperti 5% atau 7% per tahun) sebelum pemegang saham biasa mendapatkan apa pun, sehingga arus kas dapat diprediksi.
Hak menerima pengembalian modal terlebih dahulu: Dalam kasus kebangkrutan, uang dari penjualan aset harus dikembalikan ke pemegang saham preferen terlebih dahulu, memberikan perlindungan lebih dibanding saham biasa.
Jenis-jenis Saham Preferen
Pasar memiliki berbagai jenis saham preferen, tergantung pada ketentuan instrumen:
Kumulatif: Jika dalam satu tahun perusahaan tidak membayar dividen, dividen yang tertunda akan dikumpulkan dan harus dibayarkan penuh sebelum membayar dividen kepada saham biasa.
Non-kumulatif: Jika perusahaan tidak membayar dividen, uang tersebut hilang tanpa akumulasi.
Konversi: Beberapa saham preferen memberikan hak konversi menjadi saham biasa sesuai rasio tertentu, membuka peluang keuntungan dari selisih harga.
Callable: Perusahaan memiliki hak untuk membeli kembali saham preferen setelah periode tertentu, biasanya terjadi saat suku bunga pasar menurun.
Perbandingan Mendalam: Saham Preferen vs Saham Biasa
Karakteristik
Saham Biasa
Saham Preferen
Makna
Urutan Modal
Terbawah
Menengah
Saham preferen lebih aman dalam krisis
Hak Suara
Memiliki hak (1 saham = 1 suara)
Tidak atau terbatas
Saham biasa memberi kekuasaan kontrol
Karakter Dividen
Variabel sesuai laba
Tetap sesuai persentase
Saham preferen menawarkan kepastian
Akumulasi Dividen
Tidak akumulatif
Biasanya akumulatif
Memberikan perlindungan pendapatan
Potensi Pertumbuhan Harga
Tidak terbatas
Terbatas
Saham biasa untuk pertumbuhan; preferen untuk perlindungan modal
Sensitivitas terhadap Suku Bunga
Sedang
Sangat tinggi
Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga
Likuiditas (pasar Indonesia)
Tinggi
Sangat rendah
Risiko likuiditas lebih besar pada preferen
Mengapa Perusahaan Memilih Mengeluarkan Saham Preferen
Dari sudut pandang penerbit (Issuer), penerbitan saham preferen memiliki banyak keuntungan:
Mempertahankan Kendali: Pemilik bisnis yang membutuhkan dana tetapi tidak ingin bagian suara berkurang akan memilih menerbitkan saham preferen, karena pemegangnya tidak memiliki suara dalam rapat.
Meningkatkan Rasio Utang: Secara akuntansi, saham preferen dihitung sebagai “modal” bukan “utang”, sehingga angka keuangan terlihat lebih baik.
Fleksibilitas Keuangan: Bunga obligasi harus dibayar sesuai jadwal; jika tidak, dianggap gagal bayar dan berisiko kebangkrutan. Dividen saham preferen bisa ditunda jika diperlukan.
Pelajaran dari Studi Kasus Pasar Indonesia
SCB dan restrukturisasi induk perusahaan
Ketika Bank Siam Commercial (SCB) melakukan restrukturisasi menjadi SCBx melalui Tender Offer, terlihat kompleksitas dari aksi korporasi besar.
Pemegang saham preferen (SCB-P) diberikan opsi konversi, tetapi bagi yang “ketinggalan berita” atau “tidak mau konversi”, saham SCB lama dihapus dari pasar, menjadi saham di luar pasar yang sangat sulit diperdagangkan, likuiditas hilang hampir seluruhnya.
Pelajaran: Saham preferen mungkin tidak permanen, dan struktur pemegang saham dapat berubah secara mendadak.
KTB-P: jebakan likuiditas sejati
Sementara saham biasa KTB memiliki pergerakan harian ratusan juta, saham preferen (KTB-P) kadang tidak ada transaksi sama sekali.
Investor yang melihat dividen KTB-P tinggi dan berinvestasi besar-besaran, kemudian ingin menarik dana cepat, malah tidak bisa karena “tidak ada yang beli” atau harus menjual dengan diskon besar hingga rugi.
Pelajaran: Dividen tinggi tidak selalu berarti investasi yang baik jika tidak ada pasar untuk menjualnya.
RABBIT-P: Kompleksitas syarat
Saham preferen RABBIT (U City) memiliki syarat konversi (Convertible) yang memberi investor “pilihan” untuk tetap sebagai saham preferen atau mengkonversi menjadi saham biasa dengan rasio 1:1.
Situasi seperti ini cocok untuk investor berpengetahuan tinggi, karena harus menghitung “Conversion Parity” untuk memutuskan apakah konversi menguntungkan atau tidak.
Kelompok Investor dan Pilihan yang Tepat
Tidak ada aset yang “terbaik”, hanya aset yang “paling sesuai” dengan masing-masing individu.
Untuk yang Mengincar Kekayaan Jangka Panjang
Investor yang mencari pertumbuhan, bersedia menghadapi volatilitas, dan memiliki horizon panjang harus memilih saham biasa karena potensi upside tidak terbatas.
Untuk yang Mengutamakan Pendapatan Stabil
Bagi pensiunan atau yang membutuhkan Passive Income, arus kas tetap untuk kebutuhan sehari-hari, saham preferen adalah pilihan yang baik (dengan catatan memperhatikan likuiditas).
Untuk Investor Canggih
Investor berpengetahuan tinggi yang ingin mengurangi risiko dapat menggunakan strategi kombinasi, dengan memegang saham biasa sebagai Core Portfolio dan mengelola risiko dengan berbagai instrumen.
Risiko yang Perlu Disadari
Risiko Likuiditas
Ini adalah risiko utama saham preferen di Indonesia: membeli tetapi tidak bisa menjual, atau membutuhkan waktu lama untuk menemukan pembeli.
Risiko Penarikan Kembali
Sebagian besar saham preferen memiliki Callable Option; jika suku bunga pasar turun, perusahaan bisa menebus kembali saham dan menerbitkan saham baru dengan bunga lebih rendah, sehingga kehilangan peluang.
Risiko Suku Bunga
Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga pasar. Saat suku bunga naik, harga saham preferen akan turun.
Ringkasan
Perbedaan antara saham preferen dan saham biasa mencerminkan ketimpangan antara keamanan dan peluang.
Saham biasa cocok untuk mereka yang bersedia mengikuti pertumbuhan bisnis dan tahan terhadap fluktuasi.
Saham preferen cocok untuk mereka yang menginginkan kepastian dan arus kas tetap, tetapi harus berhati-hati terhadap likuiditas dan perubahan ketentuan.
Memahami secara mendalam, merencanakan secara matang, dan memilih aset yang sesuai dengan tujuan akan meningkatkan pengambilan keputusan investasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Saham preferen vs saham biasa: Perbedaan yang harus diketahui oleh investor
Dalam periode siklus perubahan suku bunga, beberapa aset yang biasanya diabaikan kembali menjadi pusat perhatian, terutama saham preferen yang merupakan instrumen yang menciptakan keseimbangan antara keamanan dan imbal hasil. Sementara itu, saham biasa tetap menjadi pemain utama dalam penciptaan kekayaan jangka panjang.
Struktur Modal dan Urutan Hak
Ketika perusahaan membutuhkan dana, ada berbagai cara untuk mendapatkan uang, baik melalui pinjaman, penerbitan obligasi, maupun penerbitan saham. Inilah yang disebut “struktur modal” dan pentingnya dalam menilai risiko.
Dalam kasus perusahaan mengalami krisis, saham preferen akan berada di urutan yang lebih tinggi daripada saham biasa dalam pembagian aset tersisa. Artinya, jika terjadi likuidasi, kreditor akan mendapatkan kembali uangnya terlebih dahulu, kemudian pemegang saham preferen, dan terakhir pemegang saham biasa.
Saham Biasa: Instrumen Pencipta Kekayaan
Ketika orang umumnya berbicara tentang “saham”, mereka biasanya merujuk pada Saham Biasa (Common Stock), yang merupakan instrumen yang menunjukkan kepemilikan nyata terhadap perusahaan.
Memiliki saham biasa adalah seperti berinvestasi di masa depan perusahaan. Jika perusahaan tumbuh dan menghasilkan laba, harga saham dapat meningkat berkali-kali lipat, menjadikannya jalur yang kuat untuk penciptaan kekayaan.
Hak dan Imbal Hasil
Pemegang saham biasa memiliki berbagai hak, termasuk hak suara, pengambilan keputusan dalam rapat pemegang saham, dan menerima dividen sesuai laba perusahaan. Namun, dividen ini tidak tetap; tergantung pada laba perusahaan.
Risiko yang Menyertainya
Dari sisi risiko, pemegang saham biasa berada di urutan terbawah dalam struktur modal. Dalam kasus kebangkrutan, mereka biasanya kehilangan seluruh modal atau hanya tersisa sebagian kecil.
Saham Preferen: Imbal Hasil yang Stabil
Saham preferen (Preferred Stock) adalah instrumen jenis Hybrid Security yang menggabungkan fitur obligasi dan saham biasa.
Secara hukum, pemegang saham preferen dianggap sebagai pemilik perusahaan, tetapi secara praktik, mereka berfungsi seperti kreditor yang meminjamkan uang kepada perusahaan dengan imbalan arus kas yang tetap.
Keunggulan Saham Preferen
Keuntungan utama saham preferen ada dua:
Hak menerima dividen terlebih dahulu: Pemegang saham preferen menerima dividen tetap (seperti 5% atau 7% per tahun) sebelum pemegang saham biasa mendapatkan apa pun, sehingga arus kas dapat diprediksi.
Hak menerima pengembalian modal terlebih dahulu: Dalam kasus kebangkrutan, uang dari penjualan aset harus dikembalikan ke pemegang saham preferen terlebih dahulu, memberikan perlindungan lebih dibanding saham biasa.
Jenis-jenis Saham Preferen
Pasar memiliki berbagai jenis saham preferen, tergantung pada ketentuan instrumen:
Kumulatif: Jika dalam satu tahun perusahaan tidak membayar dividen, dividen yang tertunda akan dikumpulkan dan harus dibayarkan penuh sebelum membayar dividen kepada saham biasa.
Non-kumulatif: Jika perusahaan tidak membayar dividen, uang tersebut hilang tanpa akumulasi.
Konversi: Beberapa saham preferen memberikan hak konversi menjadi saham biasa sesuai rasio tertentu, membuka peluang keuntungan dari selisih harga.
Callable: Perusahaan memiliki hak untuk membeli kembali saham preferen setelah periode tertentu, biasanya terjadi saat suku bunga pasar menurun.
Perbandingan Mendalam: Saham Preferen vs Saham Biasa
Mengapa Perusahaan Memilih Mengeluarkan Saham Preferen
Dari sudut pandang penerbit (Issuer), penerbitan saham preferen memiliki banyak keuntungan:
Mempertahankan Kendali: Pemilik bisnis yang membutuhkan dana tetapi tidak ingin bagian suara berkurang akan memilih menerbitkan saham preferen, karena pemegangnya tidak memiliki suara dalam rapat.
Meningkatkan Rasio Utang: Secara akuntansi, saham preferen dihitung sebagai “modal” bukan “utang”, sehingga angka keuangan terlihat lebih baik.
Fleksibilitas Keuangan: Bunga obligasi harus dibayar sesuai jadwal; jika tidak, dianggap gagal bayar dan berisiko kebangkrutan. Dividen saham preferen bisa ditunda jika diperlukan.
Pelajaran dari Studi Kasus Pasar Indonesia
SCB dan restrukturisasi induk perusahaan
Ketika Bank Siam Commercial (SCB) melakukan restrukturisasi menjadi SCBx melalui Tender Offer, terlihat kompleksitas dari aksi korporasi besar.
Pemegang saham preferen (SCB-P) diberikan opsi konversi, tetapi bagi yang “ketinggalan berita” atau “tidak mau konversi”, saham SCB lama dihapus dari pasar, menjadi saham di luar pasar yang sangat sulit diperdagangkan, likuiditas hilang hampir seluruhnya.
Pelajaran: Saham preferen mungkin tidak permanen, dan struktur pemegang saham dapat berubah secara mendadak.
KTB-P: jebakan likuiditas sejati
Sementara saham biasa KTB memiliki pergerakan harian ratusan juta, saham preferen (KTB-P) kadang tidak ada transaksi sama sekali.
Investor yang melihat dividen KTB-P tinggi dan berinvestasi besar-besaran, kemudian ingin menarik dana cepat, malah tidak bisa karena “tidak ada yang beli” atau harus menjual dengan diskon besar hingga rugi.
Pelajaran: Dividen tinggi tidak selalu berarti investasi yang baik jika tidak ada pasar untuk menjualnya.
RABBIT-P: Kompleksitas syarat
Saham preferen RABBIT (U City) memiliki syarat konversi (Convertible) yang memberi investor “pilihan” untuk tetap sebagai saham preferen atau mengkonversi menjadi saham biasa dengan rasio 1:1.
Situasi seperti ini cocok untuk investor berpengetahuan tinggi, karena harus menghitung “Conversion Parity” untuk memutuskan apakah konversi menguntungkan atau tidak.
Kelompok Investor dan Pilihan yang Tepat
Tidak ada aset yang “terbaik”, hanya aset yang “paling sesuai” dengan masing-masing individu.
Untuk yang Mengincar Kekayaan Jangka Panjang
Investor yang mencari pertumbuhan, bersedia menghadapi volatilitas, dan memiliki horizon panjang harus memilih saham biasa karena potensi upside tidak terbatas.
Untuk yang Mengutamakan Pendapatan Stabil
Bagi pensiunan atau yang membutuhkan Passive Income, arus kas tetap untuk kebutuhan sehari-hari, saham preferen adalah pilihan yang baik (dengan catatan memperhatikan likuiditas).
Untuk Investor Canggih
Investor berpengetahuan tinggi yang ingin mengurangi risiko dapat menggunakan strategi kombinasi, dengan memegang saham biasa sebagai Core Portfolio dan mengelola risiko dengan berbagai instrumen.
Risiko yang Perlu Disadari
Risiko Likuiditas
Ini adalah risiko utama saham preferen di Indonesia: membeli tetapi tidak bisa menjual, atau membutuhkan waktu lama untuk menemukan pembeli.
Risiko Penarikan Kembali
Sebagian besar saham preferen memiliki Callable Option; jika suku bunga pasar turun, perusahaan bisa menebus kembali saham dan menerbitkan saham baru dengan bunga lebih rendah, sehingga kehilangan peluang.
Risiko Suku Bunga
Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga pasar. Saat suku bunga naik, harga saham preferen akan turun.
Ringkasan
Perbedaan antara saham preferen dan saham biasa mencerminkan ketimpangan antara keamanan dan peluang.
Saham biasa cocok untuk mereka yang bersedia mengikuti pertumbuhan bisnis dan tahan terhadap fluktuasi.
Saham preferen cocok untuk mereka yang menginginkan kepastian dan arus kas tetap, tetapi harus berhati-hati terhadap likuiditas dan perubahan ketentuan.
Memahami secara mendalam, merencanakan secara matang, dan memilih aset yang sesuai dengan tujuan akan meningkatkan pengambilan keputusan investasi.