Jika Anda memperhatikan bahwa nilai uang di dompet semakin menurun, harga beras naik, minyak melonjak, itu adalah dampak dari (Inflasi) yang menggerogoti daya beli uang kita setiap hari. Tidak perlu panik karena kondisi ini terjadi di semua ekonomi, tetapi yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya.
Dalam kondisi inflasi umum, harga barang dan jasa cenderung meningkat terus-menerus, sehingga uang yang dulu cukup untuk membeli beberapa piring nasi, hari ini hanya cukup untuk satu piring. Contohnya, Presiden yang dulu dengan 50 baht bisa membeli banyak nasi, sekarang hanya bisa membeli satu mangkuk. Dan sepuluh tahun lagi, uang tersebut mungkin tidak cukup untuk membeli satu mangkuk nasi sekalipun.
Bagi investor, inflasi bukan hanya fenomena ekonomi yang mengkhawatirkan, tetapi juga sinyal penting dalam pengambilan keputusan pasar. Karena biasanya, ketika tingkat inflasi meningkat, negara akan menyesuaikan kebijakan untuk menghadapinya, yang akan mempengaruhi harga saham, suku bunga, dan peluang investasi.
Apa Penyebab Inflasi? Alasan yang Perlu Anda Ketahui
###Permintaan meningkat, tetapi pasokan tidak cukup
Ketika ekonomi pulih dari krisis, konsumen mulai lebih banyak berbelanja. Fenomena yang disebut “revenge spending” terjadi, yaitu orang memutuskan untuk menggunakan tabungan mereka secara sadar untuk mengkompensasi pengeluaran selama masa resesi. Masalahnya, produsen tidak mampu meningkatkan produksi secepat permintaan, ditambah kekurangan kontainer, chip semikonduktor, dan masalah logam serta gas alam, sehingga biaya produksi melonjak tajam.
###Biaya produksi meningkat: Dampak dari perang dan kekurangan
Harga minyak mentah, batu bara, besi, tembaga di pasar global melonjak ke level tertinggi. Peristiwa seperti perang Rusia-Ukraina dan pembatasan produksi dari negara-negara penghasil minyak utama menjadi faktor utama. Saat pandemi COVID-19, harga minyak turun ke level terendah, tetapi saat negara membuka kembali, harga melonjak tinggi karena pasokan terganggu.
###Pemerintah mencetak uang tambahan
Kadang inflasi terjadi akibat kebijakan moneter longgar, ketika pemerintah atau bank sentral mencetak uang lebih banyak ke dalam sistem. Jumlah uang beredar meningkat, tetapi barang tidak bertambah seimbang, sehingga muncul “Printing Money Inflation” yang berbahaya bagi sistem ekonomi.
Inflasi Global: Situasi Saat Ini dan Tren
Menurut laporan IMF Januari 2567, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh sebesar 3.1% tahun ini dan 3.2% tahun depan, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya karena ketahanan Amerika Serikat. Namun, pertumbuhan tetap di bawah rata-rata masa lalu karena kebijakan moneter yang ketat.
Tanda-tanda penurunan tekanan inflasi (deflation pressure) mulai muncul, tetapi risiko tetap ada dari ketegangan geopolitik. Saat ini, banyak ekonomi berada di zona Stagflasi, yaitu kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan yang melambat, yang merupakan situasi paling buruk bagi masyarakat.
Penyebab Inflasi di Thailand: Data dari Indeks Harga Konsumen (CPI)
Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index: CPI) adalah ukuran inflasi yang dihitung setiap bulan oleh Kementerian Perdagangan, berdasarkan 430 item harga.
Data CPI Thailand Januari 2567 berada di angka 110.3, meningkat 0.3% dibandingkan tahun sebelumnya, Januari 2566 di angka 108.18. Tingkat inflasi umum menurun 1.11%, ini adalah penurunan selama 4 bulan berturut-turut dan terendah dalam 35 bulan.
###Perubahan harga barang penting yang perlu diketahui
Item
2564
2565
2566
2567
Daging ayam merah
137.5 Baht/kg
205 Baht/kg
125 Baht/kg
133.31 Baht/kg
Dada ayam
67.5 Baht/kg
105 Baht/kg
80 Baht/kg
80 Baht/kg
Telur ayam
4.45 Baht/butir
5 Baht/butir
3.83-4 Baht/butir
3.9 Baht/butir
Cabai rawit
45 Baht/kg
185 Baht/kg
200 Baht/kg
50-250 Baht/kg
Solar diesel
28.29 Baht/liter
34.94 Baht/liter
33.44 Baht/liter
40.24 Baht/liter
Gasohol
28.75 Baht/liter
37.15 Baht/liter
35.08 Baht/liter
39.15 Baht/liter
Dari tabel terlihat bahwa fluktuasi harga barang makanan dan energi menjadi faktor utama yang mendorong inflasi.
Memanfaatkan Inflasi: Belajar dari PT. Pertamina (Persero) (Publik)
Contoh nyata yang menunjukkan siapa yang diuntungkan dari inflasi adalah pengusaha, pedagang, dan bankir, sementara pekerja dengan gaji tetap dirugikan karena kenaikan gaji tidak sebanding dengan inflasi.
PT. Pertamina (Persero) adalah contoh penting. Pada semester pertama 2566, perusahaan dan kelompok sekitarnya di dalam dan luar negeri memperoleh pendapatan sebesar 1.685.419 juta Baht dan laba bersih 64.419 juta Baht, meningkat 12.7% dibanding tahun sebelumnya. Laba dari operasi perusahaan menyumbang 24% dari total grup, dengan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama.
Inflasi vs Deflasi: Perbedaan yang Harus Diketahui Investor
(Inflasi) adalah kondisi kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus, yang menyebabkan nilai uang menurun.
(Deflasi) adalah kebalikannya, yaitu penurunan harga, berkurangnya permintaan, dan kekurangan uang. Situasi deflasi terjadi saat ekonomi melambat atau mengalami resesi, konsumen mengurangi pengeluaran, produsen mengurangi produksi, terjadi peningkatan pengangguran, dan ekonomi bisa terjebak dalam lingkaran stagnasi tinggi dan pertumbuhan rendah.
Kedua kondisi ini harus dihindari jika terlalu ekstrem, karena keduanya merugikan pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup.
Siapa di Atas dan Siapa di Bawah dalam Era Inflasi
(Kelompok yang Diuntungkan
✅ Pemilik bisnis dan pengusaha dapat menaikkan harga barang dan jasa, meningkatkan laba, dan memperluas usaha.
✅ Pemegang saham dan bankir karena harga saham naik dan bunga pinjaman meningkat.
✅ Debitur karena nilai hutang mereka berkurang, sehingga lebih hemat saat membayar.
)Kelompok yang Dirugikan
❌ Karyawan dengan gaji tetap karena kenaikan gaji tertinggal dari kenaikan biaya hidup.
❌ Peminjam dan orang yang menyimpan uang karena nilai uang yang disimpan menurun setiap hari.
Dampak Tingkat Inflasi terhadap Kehidupan Sehari-hari dan Bisnis
###Dampak pada masyarakat umum
Biaya hidup meningkat, daya beli menurun. Saat harga barang naik, pekerja harus menghabiskan sebagian besar gaji untuk kebutuhan pokok, menyisakan sedikit untuk tabungan dan investasi.
Pengangguran meningkat dalam jangka panjang. Jika inflasi terlalu tinggi, perusahaan akan mengurangi produksi dan mem-PHK karyawan karena permintaan menurun.
###Dampak pada pengusaha
Tidak laku, tetapi biaya tinggi. Harga barang naik, pembeli mengurangi jumlah pembelian, laba menyusut, perusahaan mengurangi investasi dan tenaga kerja, memicu resesi.
###Dampak pada negara
Perkembangan jangka panjang melambat. Investor mengurangi investasi mesin dan proyek jangka panjang karena ketidakpastian ekonomi, sehingga potensi produksi negara tidak tumbuh sesuai harapan.
Fenomena aset gelembung. Saat suku bunga sangat rendah, bahkan negatif, orang beralih ke spekulasi aset berisiko seperti saham dan properti, menciptakan gelembung.
Cara Melindungi Diri dari Inflasi: Strategi Investor
1. Beralih dari menabung ke berinvestasi
Suku bunga deposito yang rendah saat inflasi tinggi menyebabkan uang Anda kehilangan nilai. Cara melindungi adalah dengan menginvestasikan uang ke aset yang memberikan hasil tinggi, seperti saham, reksa dana, properti.
2. Hindari utang yang tidak produktif
Hati-hati berutang untuk konsumsi, karena saat inflasi tinggi, bunga pinjaman juga tinggi. Kurangi pembelian barang tidak penting.
( 3. Pantau berita ekonomi
Inflasi adalah sinyal bagi bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan. Saat kebijakan berubah, harga aset juga berubah. Oleh karena itu, mengikuti berita sangat penting.
Investasi Apa yang Baik Saat Inflasi?
) Saham bank
Bank mendapatkan keuntungan dari selisih bunga pinjaman. Saat inflasi tinggi, bank sentral menaikkan suku bunga, margin bunga meningkat, laba bank pun melonjak.
Emas
Emas bergerak seiring inflasi. Semakin tinggi inflasi, harga emas semakin mahal. Emas adalah aset yang memiliki nilai intrinsik dan tidak kehilangan nilainya dari waktu ke waktu. Investasi emas jangka panjang adalah cara yang baik untuk melindungi uang.
Properti dan reksa dana properti
Sewa properti mengikuti inflasi karena pemilik dapat menaikkan tarif sewa, sehingga hasilnya meningkat saat inflasi tinggi.
Saham sektor makanan dan energi
Produk ini adalah kebutuhan pokok, perusahaan memiliki kekuatan tawar-menawar harga, dan saat biaya naik, mereka bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.
Surat utang Floating Rate Bond atau Inflation Linked Bond
Instrumen ini menyesuaikan suku bunga sesuai inflasi, cocok untuk perlindungan.
Trading emas CFD ###Contracts for Difference###
Investor dapat berspekulasi baik saat harga naik maupun turun tanpa harus membeli emas fisik.
Kesimpulan: Investor harus memahami inflasi dan deflasi
Inflasi memiliki dua sisi. Satu sisi membantu pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran, tetapi sisi lain merugikan mereka yang berpenghasilan tetap. Jika inflasi terlalu tinggi, disebut “Hyper Inflation” atau inflasi tinggi. Sebaliknya, jika harga turun, terjadi deflasi, yang merupakan kondisi sangat buruk bagi semua orang.
Berbeda dengan deflasi, yang terjadi saat harga turun, konsumsi menurun, dan ekonomi terjebak dalam deadlock.
Investor harus memantau perubahan inflasi dan deflasi karena keduanya mempengaruhi pilihan investasi, strategi, dan peluang pasar. Dengan perencanaan yang baik, berinvestasi di aset yang tepat, dan selalu mengikuti berita, Anda dapat melewati badai inflasi dan meraih keuntungan dari kondisi yang menantang ini.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Statistik Harga: Inflasi Sedang Datang, Investor Harus Bersiap-siap Bagaimana
Mengenal “Inflasi” dan Cara Melindungi Investasi
Jika Anda memperhatikan bahwa nilai uang di dompet semakin menurun, harga beras naik, minyak melonjak, itu adalah dampak dari (Inflasi) yang menggerogoti daya beli uang kita setiap hari. Tidak perlu panik karena kondisi ini terjadi di semua ekonomi, tetapi yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya.
Dalam kondisi inflasi umum, harga barang dan jasa cenderung meningkat terus-menerus, sehingga uang yang dulu cukup untuk membeli beberapa piring nasi, hari ini hanya cukup untuk satu piring. Contohnya, Presiden yang dulu dengan 50 baht bisa membeli banyak nasi, sekarang hanya bisa membeli satu mangkuk. Dan sepuluh tahun lagi, uang tersebut mungkin tidak cukup untuk membeli satu mangkuk nasi sekalipun.
Bagi investor, inflasi bukan hanya fenomena ekonomi yang mengkhawatirkan, tetapi juga sinyal penting dalam pengambilan keputusan pasar. Karena biasanya, ketika tingkat inflasi meningkat, negara akan menyesuaikan kebijakan untuk menghadapinya, yang akan mempengaruhi harga saham, suku bunga, dan peluang investasi.
Apa Penyebab Inflasi? Alasan yang Perlu Anda Ketahui
###Permintaan meningkat, tetapi pasokan tidak cukup
Ketika ekonomi pulih dari krisis, konsumen mulai lebih banyak berbelanja. Fenomena yang disebut “revenge spending” terjadi, yaitu orang memutuskan untuk menggunakan tabungan mereka secara sadar untuk mengkompensasi pengeluaran selama masa resesi. Masalahnya, produsen tidak mampu meningkatkan produksi secepat permintaan, ditambah kekurangan kontainer, chip semikonduktor, dan masalah logam serta gas alam, sehingga biaya produksi melonjak tajam.
###Biaya produksi meningkat: Dampak dari perang dan kekurangan
Harga minyak mentah, batu bara, besi, tembaga di pasar global melonjak ke level tertinggi. Peristiwa seperti perang Rusia-Ukraina dan pembatasan produksi dari negara-negara penghasil minyak utama menjadi faktor utama. Saat pandemi COVID-19, harga minyak turun ke level terendah, tetapi saat negara membuka kembali, harga melonjak tinggi karena pasokan terganggu.
###Pemerintah mencetak uang tambahan
Kadang inflasi terjadi akibat kebijakan moneter longgar, ketika pemerintah atau bank sentral mencetak uang lebih banyak ke dalam sistem. Jumlah uang beredar meningkat, tetapi barang tidak bertambah seimbang, sehingga muncul “Printing Money Inflation” yang berbahaya bagi sistem ekonomi.
Inflasi Global: Situasi Saat Ini dan Tren
Menurut laporan IMF Januari 2567, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh sebesar 3.1% tahun ini dan 3.2% tahun depan, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya karena ketahanan Amerika Serikat. Namun, pertumbuhan tetap di bawah rata-rata masa lalu karena kebijakan moneter yang ketat.
Tanda-tanda penurunan tekanan inflasi (deflation pressure) mulai muncul, tetapi risiko tetap ada dari ketegangan geopolitik. Saat ini, banyak ekonomi berada di zona Stagflasi, yaitu kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan yang melambat, yang merupakan situasi paling buruk bagi masyarakat.
Penyebab Inflasi di Thailand: Data dari Indeks Harga Konsumen (CPI)
Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index: CPI) adalah ukuran inflasi yang dihitung setiap bulan oleh Kementerian Perdagangan, berdasarkan 430 item harga.
Data CPI Thailand Januari 2567 berada di angka 110.3, meningkat 0.3% dibandingkan tahun sebelumnya, Januari 2566 di angka 108.18. Tingkat inflasi umum menurun 1.11%, ini adalah penurunan selama 4 bulan berturut-turut dan terendah dalam 35 bulan.
###Perubahan harga barang penting yang perlu diketahui
Dari tabel terlihat bahwa fluktuasi harga barang makanan dan energi menjadi faktor utama yang mendorong inflasi.
Memanfaatkan Inflasi: Belajar dari PT. Pertamina (Persero) (Publik)
Contoh nyata yang menunjukkan siapa yang diuntungkan dari inflasi adalah pengusaha, pedagang, dan bankir, sementara pekerja dengan gaji tetap dirugikan karena kenaikan gaji tidak sebanding dengan inflasi.
PT. Pertamina (Persero) adalah contoh penting. Pada semester pertama 2566, perusahaan dan kelompok sekitarnya di dalam dan luar negeri memperoleh pendapatan sebesar 1.685.419 juta Baht dan laba bersih 64.419 juta Baht, meningkat 12.7% dibanding tahun sebelumnya. Laba dari operasi perusahaan menyumbang 24% dari total grup, dengan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama.
Inflasi vs Deflasi: Perbedaan yang Harus Diketahui Investor
(Inflasi) adalah kondisi kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus, yang menyebabkan nilai uang menurun.
(Deflasi) adalah kebalikannya, yaitu penurunan harga, berkurangnya permintaan, dan kekurangan uang. Situasi deflasi terjadi saat ekonomi melambat atau mengalami resesi, konsumen mengurangi pengeluaran, produsen mengurangi produksi, terjadi peningkatan pengangguran, dan ekonomi bisa terjebak dalam lingkaran stagnasi tinggi dan pertumbuhan rendah.
Kedua kondisi ini harus dihindari jika terlalu ekstrem, karena keduanya merugikan pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup.
Siapa di Atas dan Siapa di Bawah dalam Era Inflasi
(Kelompok yang Diuntungkan
✅ Pemilik bisnis dan pengusaha dapat menaikkan harga barang dan jasa, meningkatkan laba, dan memperluas usaha.
✅ Pemegang saham dan bankir karena harga saham naik dan bunga pinjaman meningkat.
✅ Debitur karena nilai hutang mereka berkurang, sehingga lebih hemat saat membayar.
)Kelompok yang Dirugikan
❌ Karyawan dengan gaji tetap karena kenaikan gaji tertinggal dari kenaikan biaya hidup.
❌ Peminjam dan orang yang menyimpan uang karena nilai uang yang disimpan menurun setiap hari.
Dampak Tingkat Inflasi terhadap Kehidupan Sehari-hari dan Bisnis
###Dampak pada masyarakat umum
Biaya hidup meningkat, daya beli menurun. Saat harga barang naik, pekerja harus menghabiskan sebagian besar gaji untuk kebutuhan pokok, menyisakan sedikit untuk tabungan dan investasi.
Pengangguran meningkat dalam jangka panjang. Jika inflasi terlalu tinggi, perusahaan akan mengurangi produksi dan mem-PHK karyawan karena permintaan menurun.
###Dampak pada pengusaha
Tidak laku, tetapi biaya tinggi. Harga barang naik, pembeli mengurangi jumlah pembelian, laba menyusut, perusahaan mengurangi investasi dan tenaga kerja, memicu resesi.
###Dampak pada negara
Perkembangan jangka panjang melambat. Investor mengurangi investasi mesin dan proyek jangka panjang karena ketidakpastian ekonomi, sehingga potensi produksi negara tidak tumbuh sesuai harapan.
Fenomena aset gelembung. Saat suku bunga sangat rendah, bahkan negatif, orang beralih ke spekulasi aset berisiko seperti saham dan properti, menciptakan gelembung.
Cara Melindungi Diri dari Inflasi: Strategi Investor
1. Beralih dari menabung ke berinvestasi
Suku bunga deposito yang rendah saat inflasi tinggi menyebabkan uang Anda kehilangan nilai. Cara melindungi adalah dengan menginvestasikan uang ke aset yang memberikan hasil tinggi, seperti saham, reksa dana, properti.
2. Hindari utang yang tidak produktif
Hati-hati berutang untuk konsumsi, karena saat inflasi tinggi, bunga pinjaman juga tinggi. Kurangi pembelian barang tidak penting.
( 3. Pantau berita ekonomi
Inflasi adalah sinyal bagi bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan. Saat kebijakan berubah, harga aset juga berubah. Oleh karena itu, mengikuti berita sangat penting.
Investasi Apa yang Baik Saat Inflasi?
) Saham bank
Bank mendapatkan keuntungan dari selisih bunga pinjaman. Saat inflasi tinggi, bank sentral menaikkan suku bunga, margin bunga meningkat, laba bank pun melonjak.
Emas
Emas bergerak seiring inflasi. Semakin tinggi inflasi, harga emas semakin mahal. Emas adalah aset yang memiliki nilai intrinsik dan tidak kehilangan nilainya dari waktu ke waktu. Investasi emas jangka panjang adalah cara yang baik untuk melindungi uang.
Properti dan reksa dana properti
Sewa properti mengikuti inflasi karena pemilik dapat menaikkan tarif sewa, sehingga hasilnya meningkat saat inflasi tinggi.
Saham sektor makanan dan energi
Produk ini adalah kebutuhan pokok, perusahaan memiliki kekuatan tawar-menawar harga, dan saat biaya naik, mereka bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.
Surat utang Floating Rate Bond atau Inflation Linked Bond
Instrumen ini menyesuaikan suku bunga sesuai inflasi, cocok untuk perlindungan.
Trading emas CFD ###Contracts for Difference###
Investor dapat berspekulasi baik saat harga naik maupun turun tanpa harus membeli emas fisik.
Kesimpulan: Investor harus memahami inflasi dan deflasi
Inflasi memiliki dua sisi. Satu sisi membantu pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran, tetapi sisi lain merugikan mereka yang berpenghasilan tetap. Jika inflasi terlalu tinggi, disebut “Hyper Inflation” atau inflasi tinggi. Sebaliknya, jika harga turun, terjadi deflasi, yang merupakan kondisi sangat buruk bagi semua orang.
Berbeda dengan deflasi, yang terjadi saat harga turun, konsumsi menurun, dan ekonomi terjebak dalam deadlock.
Investor harus memantau perubahan inflasi dan deflasi karena keduanya mempengaruhi pilihan investasi, strategi, dan peluang pasar. Dengan perencanaan yang baik, berinvestasi di aset yang tepat, dan selalu mengikuti berita, Anda dapat melewati badai inflasi dan meraih keuntungan dari kondisi yang menantang ini.