RSI:Dari Nol Hingga Ahli Alat Perdagangan

Banyak orang melihat harga naik turun langsung ingin ikut beli, hasilnya langsung terjebak. Masalahnya di mana? Karena kamu tidak bisa memprediksi kapan saatnya harus beli dan kapan saatnya harus jual. Saat inilah RSI (Relative Strength Index) berperan.

RSI sebenarnya apa?

RSI lengkapnya adalah Relative Strength Index, dalam bahasa Indonesia disebut Indeks Kekuatan Relatif. Sederhananya, ini mengukur kekuatan penutupan harga naik dalam suatu periode waktu, dibandingkan dengan kekuatan penutupan harga turun. Melalui perbandingan ini, RSI dapat membantu kamu dengan cepat mengenali dua sinyal penting:

Kapan saatnya jual? Ketika RSI≥70, aset berada dalam kondisi “overbought”, harga mungkin akan turun.

Kapan saatnya beli? Ketika RSI≤30, aset berada dalam kondisi “oversold”, harga mungkin akan naik.

Keunggulan RSI terletak pada kemampuannya merangkum semua data dalam rentang 0-100, sehingga kamu bisa langsung melihat apakah harga sedang ramai atau sepi.

Bagaimana cara menghitung RSI? (Kalau tidak mau tahu juga tidak apa-apa)

Kalau kamu hanya ingin menggunakannya tanpa memahami prinsipnya, bisa lewati bagian ini. Kalau ingin mendalami, ingat rumus ini:

RSI = 100 - [100 / (1 + RS)]

Dimana RS = rata-rata kenaikan harga dalam periode tertentu ÷ rata-rata penurunan harga dalam periode tertentu

Parameter standar adalah 14 periode, tapi kamu juga bisa pakai 6, 12, 24 periode, sesuai frekuensi tradingmu. Periode yang lebih pendek lebih sensitif, periode yang lebih panjang lebih stabil.

Bagaimana menggunakan overbought dan oversold untuk menghasilkan uang?

Hanya mengetahui overbought dan oversold tidak cukup. Kuncinya adalah memahami kapan sinyal ini benar-benar valid, dan kapan palsu.

Contohkan pada Tesla(NASDAQ: TSLA). Pada Mei 2019, RSI turun ke bawah 30 dan masuk oversold, kamu pikir akan rebound, tapi menunggu sinyal saja tidak cukup. Sinyal beli yang sebenarnya muncul saat RSI kembali ke zona normal dan harga menembus garis tren penurunan sebelumnya. Itu adalah peluang nyata.

Sebaliknya, pada Oktober 2021 saat Tesla mencapai rekor tertinggi, RSI naik di atas 70 dan masuk overbought. Kamu pikir saatnya jual, kan? Tidak selalu. Kali ini berbeda, RSI mulai tidak mampu membuat high baru, tapi harga tetap membuat rekor tertinggi. Divergence seperti ini adalah sinyal bahaya—minat beli di pasar melemah, dan harga akan turun. Benar saja, bulan Desember harga turun.

Menggunakan garis tengah RSI 50 untuk menilai kekuatan tren

Ini adalah trik yang sering diabaikan banyak orang. Garis tengah RSI di 50 bisa membantu menilai apakah tren benar-benar kuat.

Contoh dari Meta Platforms(NASDAQ: META). Sejak Maret 2020, RSI rebound dari oversold dan terus berfluktuasi di antara 50 dan 70, apa artinya? Menunjukkan tren naik sehat. Selama RSI tidak turun di bawah 50, tetap pegang posisi.

Tapi di pertengahan 2021, masalah muncul—RSI mulai sering menyentuh sekitar 50, dan meskipun harga masih membuat rekor tertinggi, sinyal ini menunjukkan: “Teman, bahan bakar hampir habis.” Tidak lama kemudian, harga mulai turun.

Logika utama:

  • RSI di 50-70: tren naik sehat, terus beli
  • RSI di 30-50: tren turun sehat, terus jual
  • RSI menembus 50: tren akan berbalik, harus waspada

Sinyal beli/jual paling kuat: Divergence

Kalau overbought dan oversold adalah “syarat wajib”, divergence adalah “syarat cukup”. Kalau keduanya terpenuhi, peluang keberhasilannya jauh meningkat.

Apa itu divergence? Harga membuat rekor tinggi, tapi RSI malah membuat rekor rendah; atau harga membuat rekor rendah, tapi RSI malah membuat rekor tinggi. Ketidaksesuaian ini disebut divergence.

Contoh: Broadcom(NASDAQ: AVGO). Akhir 2022, harga terus membuat rekor rendah, tapi titik terendah RSI malah meningkat. Apa artinya? Meskipun harga turun, momentum penurunan melemah, kekuatan bottom fishing di pasar menguat. Hasilnya? Harga benar-benar rebound.

Contoh lain adalah Disney(NYSE: DIS). Pertengahan 2021, harga membuat rekor tinggi, tapi puncak RSI malah menurun. Ini adalah divergence bearish, menunjukkan kekuatan kenaikan harga mulai habis. Selama lebih dari satu tahun berikutnya, harga terus turun.

Menggunakan MACD untuk memperkuat sinyal RSI

RSI punya kelemahan—dalam pasar yang sangat volatile bisa menghasilkan sinyal palsu. Bagaimana mengatasinya? Pakai bersama MACD.

Misalnya, contoh Block Inc.(NYSE: SQ). Saat RSI baru saja turun dari zona overbought, kamu belum yakin mau short atau tidak. Saat itu lihat MACD: jika garis MACD juga mulai menembus garis tengah ke bawah, konfirmasi ganda, sinyal jual benar-benar valid. Jadi, sinyal jadi lebih andal.

Daftar langkah praktis

Kapan masuk posisi long:

  1. RSI≤30 masuk oversold
  2. RSI rebound ke zona normal
  3. Harga menembus garis tren penurunan sebelumnya

Kapan masuk posisi short:

  1. RSI≥70 masuk overbought
  2. RSI kembali ke zona normal
  3. Harga menembus garis tren kenaikan sebelumnya

Tambahan poin plus:

  • Terjadi divergence antara harga dan RSI (sinyal divergence paling kuat)
  • Indikator lain seperti MACD juga memberi sinyal searah

Terakhir, ingat: RSI hanyalah alat, bukan jaminan. Fungsi utamanya adalah membantu kamu membuat keputusan di waktu yang tepat, tapi arah tren tetap harus dilihat dari grafik. Indikator hanyalah pendukung, tren adalah raja.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)