Seorang pria bisa meraih 1 miliar dolar di pasar, tetapi dalam hidupnya bangkrut hingga tersisa hanya 8.24 dolar.
Pada malam sebelum Thanksgiving tahun 1941, terdengar suara tembakan di ruang pakaian Hotel Sherry-Holland di Manhattan, New York. Jesse Lauriston Livermore, usia 63 tahun, mengakhiri hidupnya dengan pistol revolver Colt.32. Ia pernah menjadi trader paling legendaris di Wall Street, dan dianggap oleh Buffett sebagai figur setara “Alkitab”. Tapi pria jenius yang pernah memiliki kekayaan miliaran ini akhirnya meninggalkan tiga kalimat terakhir: “Hidupku adalah sebuah kegagalan. Aku lelah berjuang, tak mampu lagi bertahan. Ini satu-satunya jalan keluar.”
Kisahnya bukan sekadar “dari nol ke jutaan”, melainkan sebuah ujian kompleks tentang manusia—bagaimana kehilangan arah di antara uang dan nafsu, bagaimana berputar antara jenius dan kehancuran diri.
Remaja yang enggan bertani, membuka legenda keuangan dengan 5 dolar
1877, Livermore lahir dari keluarga petani di Massachusetts. Pada usia tiga setengah tahun sudah bisa membaca dan menulis, dan saat lima tahun sudah membaca surat kabar keuangan, dengan bakat matematika yang jauh melampaui sebaya—anak jenius seperti ini, namun diperintahkan ayahnya untuk tetap di ladang.
Pada usia 14 tahun, sebuah pertengkaran hebat dengan ayahnya mengubah jalur hidupnya. Ibunya diam-diam mengumpulkan 5 dolar (setara sekitar 180 dolar saat ini), dan pada musim semi 1891, remaja desa ini naik kereta menuju Boston. Ia tidak pergi ke kerabat yang ditunjuk ibunya, malah berhenti di depan kantor broker saham Paine Webber. Deretan angka yang berdenyut itu menarik seluruh perhatiannya, dan dengan penampilan yang cukup dewasa, ia berhasil diterima sebagai pencatat harga di papan quote.
Seperti banyak jenius lainnya, Livermore menemukan pola tersembunyi dalam pekerjaan yang tampak biasa ini. Ia menggambar grafik saham menggunakan buku kotak satu sen, dan menemukan bahwa harga saham Union Pacific Railway selalu berfluktuasi mirip pada waktu tertentu (pukul 11:15 dan 14:30), seperti “didorong oleh pasang surut tak terlihat”. Ia juga menemukan pola di balik order besar di catatan broker, menyadari bahwa angka-angka ini bukan acak, melainkan bisa diprediksi.
Saat mencatat harga futures kapas, ia tiba-tiba menyadari: “Angka-angka ini bernafas—naik seperti menapaki tangga, turun seperti menjejak tumpukan salju yang runtuh.” Pencerahan ini menjadi fondasi teori analisis teknikal di kemudian hari.
Trader penuh waktu di usia 16, si “pengganggu” yang selalu dilarang
Livermore menemukan sebuah perusahaan taruhan, menginvestasikan 5 dolar dan mendapatkan keuntungan 3,12 dolar. Ia bekerja sambil trading, dan pada usia 16 tahun memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan menjadi trader penuh waktu.
Ia seperti ahli silat yang baru turun dari perguruan, dan dalam beberapa tahun namanya langsung terkenal. Tapi karena selalu menang, ia terus-menerus diblokir oleh perusahaan taruhan di Boston satu demi satu. Remaja yang baru berusia dua puluhan ini bahkan membuat kasino tutup pintu untuknya—ia meraup 10.000 dolar (setara sekitar 30.000 dolar saat ini).
Kegagalan pertama di New York: pelajaran pertama dari jenius
Setelah pindah ke New York tahun 1899, Livermore yang berusia 23 tahun bertemu gadis Indian, Nattie Jordan, dan menikah cepat. Sebagai trader muda yang baru datang, ia belum terbiasa dengan panggung yang lebih besar. Ia melakukan trading otomatis berdasarkan angka dari alat otomatisasi data pasar, namun karena data ini terlambat 30-40 menit dari pasar nyata, ia mengalami kekalahan besar. Kurang dari setahun setelah menikah, ia bangkrut karena gagal trading.
Untuk mengumpulkan dana, Livermore meminta istrinya menggadaikan perhiasan yang dibelinya, tapi ditolak. Enam tahun kemudian, mereka bercerai.
Kegagalan ini menanamkan keraguan dalam dirinya: ia mulai meragukan diri sendiri, merasa tidak bahagia, dan kondisi psikologis ini akan berkembang menjadi depresi selama bertahun-tahun.
Pejuang short selling dan pertempuran epik selama tiga bulan: meraup 750.000 dolar
Dari 1899 hingga 1906, Livermore bangkit kembali dalam tujuh tahun. Pada usia 28 tahun, ia sudah mengumpulkan modal 100.000 dolar. Tapi ia mulai mengkritik dirinya sendiri—mengumpulkan uang tapi tetap tidak bahagia, trading terlalu konservatif. Saat berlibur di Palm Beach, ia melakukan refleksi mendalam.
Kesempatan datang pada 18 April 1906. Gempa bumi berkekuatan 7.9 skala Richter menghancurkan San Francisco. Pasar umumnya bullish terhadap Union Pacific (UP), percaya bahwa pembangunan kembali akan meningkatkan permintaan transportasi. Tapi Livermore berpendapat sebaliknya.
Logikanya jelas:
Fundamental: Gempa menyebabkan volume pengangkutan di San Francisco anjlok; perusahaan asuransi harus menjual saham blue-chip untuk likuidasi; laporan keuangan UP akan jauh di bawah ekspektasi.
Teknis: Harga rebound tapi volume melemah, minat beli kurang. Ia menunggu harga menyentuh level support penting lalu mulai membangun posisi.
Livermore melakukan pembelian bertahap dalam tiga tahap. Pada April-Mei, ia membuka posisi short di 160 dolar, lalu menambah setelah laporan keuangan pesimis diumumkan Juni, dan saat harga jatuh di bawah 100 dolar Juli, ia menutup posisi di sekitar 90 dolar, meraih keuntungan lebih dari 250.000 dolar (setara 7,5 juta dolar saat ini).
Orang-orang menyimpulkan strategi inti Livermore dari pertempuran ini: menunggu konfirmasi tren sebelum bertindak penuh, sadar bahwa “berita baik yang habis adalah sinyal negatif”, selalu menyisihkan dana cadangan untuk volatilitas. Prinsip trading ini tetap relevan hingga hari ini, 120 tahun kemudian.
Panik 1907: Livermore meraup sekitar juta dolar dalam seminggu
Tahun 1907, Livermore menemukan bahwa perusahaan trust di New York berleveraged tinggi pada obligasi junk, dan suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%—tanda awal krisis likuiditas. Ia menyelidiki secara diam-diam, memastikan banyak trust berkualitas buruk.
Ia melakukan short secara tersebar di berbagai broker terhadap Union Pacific, US Steel, dan saham utama lainnya. Pada 14 Oktober, ia secara terbuka meragukan kemampuan pembayaran trust Nickebork, memicu penarikan dana besar dan kebangkrutan.
Pada 22 Oktober, ia memanfaatkan aturan settlement T+0 untuk mengakumulasi penjualan saham, memicu stop-loss otomatis dan mempercepat kejatuhan pasar. Pada 24 Oktober, ketua NYSE sendiri memohon agar ia berhenti short, jika tidak pasar akan benar-benar runtuh. Livermore keluar tepat satu jam sebelum Morgan mengumumkan langkah penyelamatan, menutup 70% posisi short-nya.
Total keuntungan: 3 juta dolar, setara sekitar @E5@ juta dolar saat ini.
Pertempuran ini mengukuhkan reputasi Livermore sebagai “Raja Short Selling Wall Street”, sekaligus memperlihatkan kekuatan informasi dan psikologi pasar.
Hukuman diri jenius: kerugian 3 juta dolar dari futures kapas
Namun manusia selalu bisa dikalahkan oleh sisi gelapnya.
Teman Livermore, Teddy Press, adalah otoritas di industri kapas, dan memiliki info langsung pasar spot. Press secara terbuka bullish kapas, dan Livermore yang ingin “buktikan kemampuan cross-market”-nya, termanfaatkan. Meski data dari database bertentangan dengan pandangan Press, ia tetap percaya pada temannya, dan akhirnya memegang kontrak futures kapas 300 juta pon—taruhan jauh di luar batas wajar.
Hasilnya, kerugian total 3 juta dolar—setara seluruh keuntungan short selling tahun 1907. Kegagalan ini melanggar tiga prinsip utama Livermore: Jangan pernah percaya saran orang lain, jangan pernah menutup posisi rugi, dan jangan biarkan narasi mengalahkan sinyal harga.
Tapi lebih tepatnya, ini bukan karena tertipu teman, melainkan hukuman diri sendiri—sebuah harga dari kegilaan seorang jenius yang bertaruh besar dan gagal.
Melawan keputusasaan: dari 5.000 dolar jadi 3 juta dolar
Setelah gagal besar di kapas tahun 1915, Livermore bangkit kembali dalam sebuah aksi balas dendam yang terkenal di Wall Street.
Ia mengajukan perlindungan kebangkrutan secara sukarela, dan mencapai kesepakatan dengan kreditur untuk menyisihkan 50.000 dolar sebagai biaya hidup dasar. Ia mendapatkan kredit rahasia dari lawan lamanya, dengan syarat semua transaksi dilakukan oleh pihak lain—sebuah bentuk pengawasan, sekaligus memaksa pengelolaan risiko leverage 1:5 (sebelumnya ia biasa memakai 1:20).
Pembatasan ini justru membantunya membangun kembali disiplin trading.
Saat itu, Perang Dunia I pecah, dan pesanan militer AS meningkat pesat. Livermore melihat bahwa saham Bethlehem Steel belum bereaksi terhadap tren ini. Volume meningkat tapi harga sideways—sinyal akumulasi yang khas.
Mulai Juli 1915, ia coba beli 5% dari modal di harga 50 dolar. Saat melewati 60 dolar di Agustus, ia menambah posisi hingga 30%. Saat September harga kembali ke 58 dolar, ia menolak stop-loss karena yakin tren naik belum tertembus. Hingga Januari tahun berikutnya, harga melonjak ke 700 dolar, dan ia menutup posisi dengan keuntungan 14 kali lipat—modal 50.000 dolar kembali menjadi 3 juta dolar.
Kutukan uang: tiga pernikahan dan empat kebangkrutan
Selama puluhan tahun berikutnya, Livermore terus berkisah tentang uang dan wanita.
Ia membangun bisnis trading resmi, meraup 15 juta dolar, dan mempekerjakan 60 orang. Pada 1925, ia meraup 10 juta dolar dari trading gandum dan jagung. Pada 1929, saat Wall Street crash besar, ia meraup 1 miliar dolar dari short selling (setara sekitar 150 miliar dolar saat ini).
Tapi sepuluh tahun berikutnya, semua uang itu habis karena perceraian, pajak, dan gaya hidup boros.
Setelah perceraian panjang dari istri pertama, Nattie, ia menikahi penari Dorothy dan punya dua anak. Tapi ia juga menjalin hubungan tak jelas dengan penyanyi opera Eropa, Anita, dan menamai kapal pesiar mewah dengan nama Anita. Dorothy semakin kecanduan alkohol.
1931, ia bercerai lagi, dan Dorothy mendapatkan 10 juta dolar sebagai bagian dari harta waris. Rumah yang dibeli seharga 3,5 juta dolar akhirnya dijual seharga 222.000 dolar. Rumah penuh kenangan itu dihancurkan, dan depresi Livermore semakin dalam. Perhiasan dan cincin pernikahan yang ia berikan kepada Dorothy dijual murah—ini pukulan mental yang mematikan.
Rinciannya menunjukkan dua hal: jenius tak mampu menahan penghinaan emosional, dan wanita yang bercerai itu sangat menakutkan.
1932, usia 55 tahun, Livermore bertemu Harriet Mets Noble, wanita cerai yang disebut “janda sosial”. Ia mungkin salah menilai kekayaan Livermore—sebenarnya ia berhutang 2 juta dolar. Setelah bangkrut terakhir pada 1934, mereka terpaksa keluar dari apartemen di Manhattan dan hidup dari menjual perhiasan.
Gelap terakhir: menuju jalan tanpa kembali
November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel dengan pistol Livermore. Suratnya menyebutkan “tak mampu menahan kemiskinan dan alkoholnya.” Livermore menulis di diary: “Aku telah membunuh semua orang yang dekat denganku.”
Setahun kemudian, 28 November 1941, di ruang pakaian hotel yang sama, Livermore yang tenggelam dalam depresi menembakkan pistol ke pelipisnya. Ini adalah senjata pertahanan yang selalu ia bawa, dan juga model yang dibelinya setelah meraih keuntungan besar dari short selling tahun 1907—seperti lingkaran takdir yang tertutup.
Hanya tersisa 8.24 dolar di sakunya dan satu tiket balapan yang kedaluwarsa. Hanya 15 orang yang hadir di pemakamannya, termasuk 2 kreditur.
Hingga tahun 1999, penggemar mengumpulkan dana untuk memahatkan sebuah prasasti di makamnya: “Hidupnya membuktikan bahwa pedang paling tajam di pasar akhirnya akan menikam dirinya sendiri.”
Warisan legenda: prinsip inti dari Alkitab trading
Livermore mengalami naik turun berkali-kali, namun meninggalkan filosofi trading yang dihormati oleh Buffett, Soros, dan Peter Lynch:
Beli saham yang sedang naik, jual yang sedang turun
Trading hanya saat pasar menunjukkan tren yang jelas
Wall Street tidak pernah berubah, karena manusia tidak pernah berubah
Investor harus waspada terhadap banyak hal, terutama diri sendiri
Pasar tidak pernah salah, manusia yang sering keliru
Untuk meraih keuntungan besar, harus menunggu, bukan sering-sering trading
Pasar hanya punya satu sisi, bukan bullish atau bearish, melainkan sisi yang benar
Hidup Livermore adalah catatan dari prinsip-prinsip ini—dia menguasai pasar, tapi kalah oleh dirinya sendiri; mampu mengalahkan Wall Street, tapi tak mampu mengalahkan manusia.
The New Yorker pernah menulis: “Livermore sangat tajam di pasar seperti pisau bedah, tapi buta dalam asmara seperti pemabuk. Sepanjang hidupnya ia melakukan short terhadap pasar, tapi selalu long terhadap cinta—dan keduanya membuatnya bangkrut.”
Dari 5 dolar menjadi miliaran, lalu dari miliaran kembali ke 8.24 dolar, Livermore menjalani hidup yang memperlihatkan paradoks uang dan nafsu—ketika seseorang menguasai aturan pasar, tapi tak mampu mengendalikan iblis dalam dirinya, semua kekayaan akan lenyap dalam sekejap.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Dari 5 dolar hingga kekayaan miliaran dan akhirnya berakhir dengan satu tembakan—mengapa kisah legenda Wall Street Li Fo Mo berakhir dengan penutupan?
Seorang pria bisa meraih 1 miliar dolar di pasar, tetapi dalam hidupnya bangkrut hingga tersisa hanya 8.24 dolar.
Pada malam sebelum Thanksgiving tahun 1941, terdengar suara tembakan di ruang pakaian Hotel Sherry-Holland di Manhattan, New York. Jesse Lauriston Livermore, usia 63 tahun, mengakhiri hidupnya dengan pistol revolver Colt.32. Ia pernah menjadi trader paling legendaris di Wall Street, dan dianggap oleh Buffett sebagai figur setara “Alkitab”. Tapi pria jenius yang pernah memiliki kekayaan miliaran ini akhirnya meninggalkan tiga kalimat terakhir: “Hidupku adalah sebuah kegagalan. Aku lelah berjuang, tak mampu lagi bertahan. Ini satu-satunya jalan keluar.”
Kisahnya bukan sekadar “dari nol ke jutaan”, melainkan sebuah ujian kompleks tentang manusia—bagaimana kehilangan arah di antara uang dan nafsu, bagaimana berputar antara jenius dan kehancuran diri.
Remaja yang enggan bertani, membuka legenda keuangan dengan 5 dolar
1877, Livermore lahir dari keluarga petani di Massachusetts. Pada usia tiga setengah tahun sudah bisa membaca dan menulis, dan saat lima tahun sudah membaca surat kabar keuangan, dengan bakat matematika yang jauh melampaui sebaya—anak jenius seperti ini, namun diperintahkan ayahnya untuk tetap di ladang.
Pada usia 14 tahun, sebuah pertengkaran hebat dengan ayahnya mengubah jalur hidupnya. Ibunya diam-diam mengumpulkan 5 dolar (setara sekitar 180 dolar saat ini), dan pada musim semi 1891, remaja desa ini naik kereta menuju Boston. Ia tidak pergi ke kerabat yang ditunjuk ibunya, malah berhenti di depan kantor broker saham Paine Webber. Deretan angka yang berdenyut itu menarik seluruh perhatiannya, dan dengan penampilan yang cukup dewasa, ia berhasil diterima sebagai pencatat harga di papan quote.
Seperti banyak jenius lainnya, Livermore menemukan pola tersembunyi dalam pekerjaan yang tampak biasa ini. Ia menggambar grafik saham menggunakan buku kotak satu sen, dan menemukan bahwa harga saham Union Pacific Railway selalu berfluktuasi mirip pada waktu tertentu (pukul 11:15 dan 14:30), seperti “didorong oleh pasang surut tak terlihat”. Ia juga menemukan pola di balik order besar di catatan broker, menyadari bahwa angka-angka ini bukan acak, melainkan bisa diprediksi.
Saat mencatat harga futures kapas, ia tiba-tiba menyadari: “Angka-angka ini bernafas—naik seperti menapaki tangga, turun seperti menjejak tumpukan salju yang runtuh.” Pencerahan ini menjadi fondasi teori analisis teknikal di kemudian hari.
Trader penuh waktu di usia 16, si “pengganggu” yang selalu dilarang
Livermore menemukan sebuah perusahaan taruhan, menginvestasikan 5 dolar dan mendapatkan keuntungan 3,12 dolar. Ia bekerja sambil trading, dan pada usia 16 tahun memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan menjadi trader penuh waktu.
Ia seperti ahli silat yang baru turun dari perguruan, dan dalam beberapa tahun namanya langsung terkenal. Tapi karena selalu menang, ia terus-menerus diblokir oleh perusahaan taruhan di Boston satu demi satu. Remaja yang baru berusia dua puluhan ini bahkan membuat kasino tutup pintu untuknya—ia meraup 10.000 dolar (setara sekitar 30.000 dolar saat ini).
Kegagalan pertama di New York: pelajaran pertama dari jenius
Setelah pindah ke New York tahun 1899, Livermore yang berusia 23 tahun bertemu gadis Indian, Nattie Jordan, dan menikah cepat. Sebagai trader muda yang baru datang, ia belum terbiasa dengan panggung yang lebih besar. Ia melakukan trading otomatis berdasarkan angka dari alat otomatisasi data pasar, namun karena data ini terlambat 30-40 menit dari pasar nyata, ia mengalami kekalahan besar. Kurang dari setahun setelah menikah, ia bangkrut karena gagal trading.
Untuk mengumpulkan dana, Livermore meminta istrinya menggadaikan perhiasan yang dibelinya, tapi ditolak. Enam tahun kemudian, mereka bercerai.
Kegagalan ini menanamkan keraguan dalam dirinya: ia mulai meragukan diri sendiri, merasa tidak bahagia, dan kondisi psikologis ini akan berkembang menjadi depresi selama bertahun-tahun.
Pejuang short selling dan pertempuran epik selama tiga bulan: meraup 750.000 dolar
Dari 1899 hingga 1906, Livermore bangkit kembali dalam tujuh tahun. Pada usia 28 tahun, ia sudah mengumpulkan modal 100.000 dolar. Tapi ia mulai mengkritik dirinya sendiri—mengumpulkan uang tapi tetap tidak bahagia, trading terlalu konservatif. Saat berlibur di Palm Beach, ia melakukan refleksi mendalam.
Kesempatan datang pada 18 April 1906. Gempa bumi berkekuatan 7.9 skala Richter menghancurkan San Francisco. Pasar umumnya bullish terhadap Union Pacific (UP), percaya bahwa pembangunan kembali akan meningkatkan permintaan transportasi. Tapi Livermore berpendapat sebaliknya.
Logikanya jelas:
Livermore melakukan pembelian bertahap dalam tiga tahap. Pada April-Mei, ia membuka posisi short di 160 dolar, lalu menambah setelah laporan keuangan pesimis diumumkan Juni, dan saat harga jatuh di bawah 100 dolar Juli, ia menutup posisi di sekitar 90 dolar, meraih keuntungan lebih dari 250.000 dolar (setara 7,5 juta dolar saat ini).
Orang-orang menyimpulkan strategi inti Livermore dari pertempuran ini: menunggu konfirmasi tren sebelum bertindak penuh, sadar bahwa “berita baik yang habis adalah sinyal negatif”, selalu menyisihkan dana cadangan untuk volatilitas. Prinsip trading ini tetap relevan hingga hari ini, 120 tahun kemudian.
Panik 1907: Livermore meraup sekitar juta dolar dalam seminggu
Tahun 1907, Livermore menemukan bahwa perusahaan trust di New York berleveraged tinggi pada obligasi junk, dan suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%—tanda awal krisis likuiditas. Ia menyelidiki secara diam-diam, memastikan banyak trust berkualitas buruk.
Ia melakukan short secara tersebar di berbagai broker terhadap Union Pacific, US Steel, dan saham utama lainnya. Pada 14 Oktober, ia secara terbuka meragukan kemampuan pembayaran trust Nickebork, memicu penarikan dana besar dan kebangkrutan.
Pada 22 Oktober, ia memanfaatkan aturan settlement T+0 untuk mengakumulasi penjualan saham, memicu stop-loss otomatis dan mempercepat kejatuhan pasar. Pada 24 Oktober, ketua NYSE sendiri memohon agar ia berhenti short, jika tidak pasar akan benar-benar runtuh. Livermore keluar tepat satu jam sebelum Morgan mengumumkan langkah penyelamatan, menutup 70% posisi short-nya.
Total keuntungan: 3 juta dolar, setara sekitar @E5@ juta dolar saat ini.
Pertempuran ini mengukuhkan reputasi Livermore sebagai “Raja Short Selling Wall Street”, sekaligus memperlihatkan kekuatan informasi dan psikologi pasar.
Hukuman diri jenius: kerugian 3 juta dolar dari futures kapas
Namun manusia selalu bisa dikalahkan oleh sisi gelapnya.
Teman Livermore, Teddy Press, adalah otoritas di industri kapas, dan memiliki info langsung pasar spot. Press secara terbuka bullish kapas, dan Livermore yang ingin “buktikan kemampuan cross-market”-nya, termanfaatkan. Meski data dari database bertentangan dengan pandangan Press, ia tetap percaya pada temannya, dan akhirnya memegang kontrak futures kapas 300 juta pon—taruhan jauh di luar batas wajar.
Hasilnya, kerugian total 3 juta dolar—setara seluruh keuntungan short selling tahun 1907. Kegagalan ini melanggar tiga prinsip utama Livermore: Jangan pernah percaya saran orang lain, jangan pernah menutup posisi rugi, dan jangan biarkan narasi mengalahkan sinyal harga.
Tapi lebih tepatnya, ini bukan karena tertipu teman, melainkan hukuman diri sendiri—sebuah harga dari kegilaan seorang jenius yang bertaruh besar dan gagal.
Melawan keputusasaan: dari 5.000 dolar jadi 3 juta dolar
Setelah gagal besar di kapas tahun 1915, Livermore bangkit kembali dalam sebuah aksi balas dendam yang terkenal di Wall Street.
Ia mengajukan perlindungan kebangkrutan secara sukarela, dan mencapai kesepakatan dengan kreditur untuk menyisihkan 50.000 dolar sebagai biaya hidup dasar. Ia mendapatkan kredit rahasia dari lawan lamanya, dengan syarat semua transaksi dilakukan oleh pihak lain—sebuah bentuk pengawasan, sekaligus memaksa pengelolaan risiko leverage 1:5 (sebelumnya ia biasa memakai 1:20).
Pembatasan ini justru membantunya membangun kembali disiplin trading.
Saat itu, Perang Dunia I pecah, dan pesanan militer AS meningkat pesat. Livermore melihat bahwa saham Bethlehem Steel belum bereaksi terhadap tren ini. Volume meningkat tapi harga sideways—sinyal akumulasi yang khas.
Mulai Juli 1915, ia coba beli 5% dari modal di harga 50 dolar. Saat melewati 60 dolar di Agustus, ia menambah posisi hingga 30%. Saat September harga kembali ke 58 dolar, ia menolak stop-loss karena yakin tren naik belum tertembus. Hingga Januari tahun berikutnya, harga melonjak ke 700 dolar, dan ia menutup posisi dengan keuntungan 14 kali lipat—modal 50.000 dolar kembali menjadi 3 juta dolar.
Kutukan uang: tiga pernikahan dan empat kebangkrutan
Selama puluhan tahun berikutnya, Livermore terus berkisah tentang uang dan wanita.
Ia membangun bisnis trading resmi, meraup 15 juta dolar, dan mempekerjakan 60 orang. Pada 1925, ia meraup 10 juta dolar dari trading gandum dan jagung. Pada 1929, saat Wall Street crash besar, ia meraup 1 miliar dolar dari short selling (setara sekitar 150 miliar dolar saat ini).
Tapi sepuluh tahun berikutnya, semua uang itu habis karena perceraian, pajak, dan gaya hidup boros.
Setelah perceraian panjang dari istri pertama, Nattie, ia menikahi penari Dorothy dan punya dua anak. Tapi ia juga menjalin hubungan tak jelas dengan penyanyi opera Eropa, Anita, dan menamai kapal pesiar mewah dengan nama Anita. Dorothy semakin kecanduan alkohol.
1931, ia bercerai lagi, dan Dorothy mendapatkan 10 juta dolar sebagai bagian dari harta waris. Rumah yang dibeli seharga 3,5 juta dolar akhirnya dijual seharga 222.000 dolar. Rumah penuh kenangan itu dihancurkan, dan depresi Livermore semakin dalam. Perhiasan dan cincin pernikahan yang ia berikan kepada Dorothy dijual murah—ini pukulan mental yang mematikan.
Rinciannya menunjukkan dua hal: jenius tak mampu menahan penghinaan emosional, dan wanita yang bercerai itu sangat menakutkan.
1932, usia 55 tahun, Livermore bertemu Harriet Mets Noble, wanita cerai yang disebut “janda sosial”. Ia mungkin salah menilai kekayaan Livermore—sebenarnya ia berhutang 2 juta dolar. Setelah bangkrut terakhir pada 1934, mereka terpaksa keluar dari apartemen di Manhattan dan hidup dari menjual perhiasan.
Gelap terakhir: menuju jalan tanpa kembali
November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel dengan pistol Livermore. Suratnya menyebutkan “tak mampu menahan kemiskinan dan alkoholnya.” Livermore menulis di diary: “Aku telah membunuh semua orang yang dekat denganku.”
Setahun kemudian, 28 November 1941, di ruang pakaian hotel yang sama, Livermore yang tenggelam dalam depresi menembakkan pistol ke pelipisnya. Ini adalah senjata pertahanan yang selalu ia bawa, dan juga model yang dibelinya setelah meraih keuntungan besar dari short selling tahun 1907—seperti lingkaran takdir yang tertutup.
Hanya tersisa 8.24 dolar di sakunya dan satu tiket balapan yang kedaluwarsa. Hanya 15 orang yang hadir di pemakamannya, termasuk 2 kreditur.
Hingga tahun 1999, penggemar mengumpulkan dana untuk memahatkan sebuah prasasti di makamnya: “Hidupnya membuktikan bahwa pedang paling tajam di pasar akhirnya akan menikam dirinya sendiri.”
Warisan legenda: prinsip inti dari Alkitab trading
Livermore mengalami naik turun berkali-kali, namun meninggalkan filosofi trading yang dihormati oleh Buffett, Soros, dan Peter Lynch:
Hidup Livermore adalah catatan dari prinsip-prinsip ini—dia menguasai pasar, tapi kalah oleh dirinya sendiri; mampu mengalahkan Wall Street, tapi tak mampu mengalahkan manusia.
The New Yorker pernah menulis: “Livermore sangat tajam di pasar seperti pisau bedah, tapi buta dalam asmara seperti pemabuk. Sepanjang hidupnya ia melakukan short terhadap pasar, tapi selalu long terhadap cinta—dan keduanya membuatnya bangkrut.”
Dari 5 dolar menjadi miliaran, lalu dari miliaran kembali ke 8.24 dolar, Livermore menjalani hidup yang memperlihatkan paradoks uang dan nafsu—ketika seseorang menguasai aturan pasar, tapi tak mampu mengendalikan iblis dalam dirinya, semua kekayaan akan lenyap dalam sekejap.