Intisari Utama Limit order memberi Anda kendali penuh atas pembelian dan penjualan. Setelah menetapkan harga tertentu, transaksi hanya akan terjadi jika harga pasar mencapai atau lebih baik dari harga tersebut. Dibandingkan dengan order pasar yang dieksekusi segera, limit order memberi Anda lebih banyak kontrol—Anda dapat menunggu harga beli yang lebih rendah atau menjual dengan harga yang lebih tinggi. Sebagai maker bukan taker, Anda juga dapat menikmati biaya transaksi yang lebih rendah.
Mengapa Menggunakan Limit Order?
Situasi paling umum saat trading: ragu-ragu apakah harus segera membeli pada harga saat ini? Di sinilah limit order sangat berguna.
Tiga keunggulan utama dari limit order adalah. Pertama adalah kontrol harga—Anda dapat menetapkan harga beli tertinggi atau harga jual terendah, misalnya Bitcoin (BTC) saat ini $45,000, tetapi Anda merasa $43,000 lebih masuk akal, maka Anda bisa memasang buy limit order dan menunggu dengan tenang. Kedua adalah otomatisasi trading—tanpa harus memantau pasar 24 jam, sistem akan otomatis mengeksekusi saat kondisi terpenuhi. Ketiga adalah optimisasi biaya—biaya maker biasanya lebih rendah daripada biaya taker, sehingga dalam jangka panjang bisa menghemat biaya transaksi.
Bagaimana Cara Kerja Limit Order?
Ketika Anda membuat limit order, order tersebut langsung masuk ke order book, tetapi tidak langsung dieksekusi—kecuali harga pasar mencapai threshold yang Anda tetapkan (atau lebih baik).
Contohnya: Ether (ETH) saat ini $2,500, Anda ingin membeli 10 ETH saat harga $2,400. Setelah membuat limit order ini, sistem akan menunggu. Begitu ETH turun ke $2,400 atau lebih rendah, order Anda akan diisi sesuai likuiditas pasar. Tapi ada satu detail—jika ada order beli lain di depan, sistem akan memprioritaskan order tersebut, dan order Anda akan dieksekusi dari sisa likuiditas yang tersedia.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah masa berlaku order. Sebagian besar exchange memungkinkan limit order bertahan sekitar 90 hari. Dalam kondisi pasar yang sangat volatil, Anda mungkin menghadapi situasi “kebaikan berubah menjadi keburukan”. Misalnya, Anda memasang order jual 10 BNB dengan limit $600, saat ini harga $500. Seminggu kemudian BNB naik ke $700, dan order limit $600 Anda terpenuhi—terlihat menguntungkan, tetapi sebenarnya Anda melewatkan peluang menjual di harga lebih tinggi, misalnya $700. Oleh karena itu, penting untuk secara rutin memeriksa dan menyesuaikan order terbuka sesuai kondisi pasar.
Limit Order vs Jenis Order Lainnya
Limit Order vs Stop Loss
Stop loss adalah order pasar yang dipicu saat harga mencapai titik stop loss Anda. Kedengarannya mirip, tetapi logika eksekusinya berbeda. Limit order dieksekusi sesuai harga limit yang Anda tetapkan (atau lebih baik), sedangkan stop loss berubah menjadi order pasar saat dipicu, dan dieksekusi pada harga pasar saat itu. Jika pasar melonjak secara tiba-tiba, stop loss Anda mungkin dieksekusi jauh di bawah harga yang diharapkan.
Limit order digunakan untuk secara aktif menunggu harga terbaik, sementara stop loss digunakan untuk secara pasif melindungi risiko—satu untuk serangan, satu untuk pertahanan.
Limit Order vs Stop-Limit
Stop-limit adalah gabungan: pertama menunggu harga stop tercapai, lalu otomatis membuat limit order. Misalnya BNB saat ini $600, Anda pasang stop-limit dengan stop price $590 dan limit price $585. Ketika BNB turun ke $590, sistem otomatis memasang order jual di $585.
Perbedaan utama adalah: limit order langsung masuk ke order book, sedangkan stop-limit hanya masuk setelah stop price tercapai. Ini berarti stop-limit berisiko “trigger tapi tidak ada yang ambil”—pasar bisa melompati limit price Anda secara mendadak, dan order bisa batal.
Kapan Menggunakan Limit Order Beli?
Situasi berikut cocok untuk strategi buy limit:
Anda memiliki harga beli yang diinginkan dan tidak terburu-buru
Ingin membangun posisi secara bertahap, menerapkan strategi DCA
Mengantisipasi koreksi pasar dan ingin mengakumulasi posisi sebelumnya
Ingin mengurangi biaya transaksi per order
Ingin memaksimalkan keuntungan atau meminimalkan kerugian
Saran Praktis
Ketidakpastian Eksekusi: Meski harga mencapai limit, tidak ada jaminan 100% order akan terisi. Likuiditas pasar yang rendah, lonjakan harga cepat, dan faktor lain bisa menyebabkan sebagian atau seluruh order tidak terisi.
Keuntungan Biaya yang Jelas: Sebagai maker, order Anda menyediakan likuiditas pasar, dan exchange biasanya memberi insentif biaya lebih rendah.
Kesabaran Berbuah Manis: Dibandingkan order pasar yang langsung dieksekusi, limit order membutuhkan waktu tunggu, tetapi jika parameter diatur dengan baik, hasil jangka panjang bisa lebih stabil.
Secara keseluruhan, limit order adalah alat penting dalam kotak peralatan trading. Menguasai logika buy limit dan sell limit, serta menyesuaikan dengan rencana trading dan toleransi risiko Anda, dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi dan hasil trading.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kuasi Strategi Beli Batas: Cara Melakukan Perdagangan yang Lebih Cerdas
Intisari Utama Limit order memberi Anda kendali penuh atas pembelian dan penjualan. Setelah menetapkan harga tertentu, transaksi hanya akan terjadi jika harga pasar mencapai atau lebih baik dari harga tersebut. Dibandingkan dengan order pasar yang dieksekusi segera, limit order memberi Anda lebih banyak kontrol—Anda dapat menunggu harga beli yang lebih rendah atau menjual dengan harga yang lebih tinggi. Sebagai maker bukan taker, Anda juga dapat menikmati biaya transaksi yang lebih rendah.
Mengapa Menggunakan Limit Order?
Situasi paling umum saat trading: ragu-ragu apakah harus segera membeli pada harga saat ini? Di sinilah limit order sangat berguna.
Tiga keunggulan utama dari limit order adalah. Pertama adalah kontrol harga—Anda dapat menetapkan harga beli tertinggi atau harga jual terendah, misalnya Bitcoin (BTC) saat ini $45,000, tetapi Anda merasa $43,000 lebih masuk akal, maka Anda bisa memasang buy limit order dan menunggu dengan tenang. Kedua adalah otomatisasi trading—tanpa harus memantau pasar 24 jam, sistem akan otomatis mengeksekusi saat kondisi terpenuhi. Ketiga adalah optimisasi biaya—biaya maker biasanya lebih rendah daripada biaya taker, sehingga dalam jangka panjang bisa menghemat biaya transaksi.
Bagaimana Cara Kerja Limit Order?
Ketika Anda membuat limit order, order tersebut langsung masuk ke order book, tetapi tidak langsung dieksekusi—kecuali harga pasar mencapai threshold yang Anda tetapkan (atau lebih baik).
Contohnya: Ether (ETH) saat ini $2,500, Anda ingin membeli 10 ETH saat harga $2,400. Setelah membuat limit order ini, sistem akan menunggu. Begitu ETH turun ke $2,400 atau lebih rendah, order Anda akan diisi sesuai likuiditas pasar. Tapi ada satu detail—jika ada order beli lain di depan, sistem akan memprioritaskan order tersebut, dan order Anda akan dieksekusi dari sisa likuiditas yang tersedia.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah masa berlaku order. Sebagian besar exchange memungkinkan limit order bertahan sekitar 90 hari. Dalam kondisi pasar yang sangat volatil, Anda mungkin menghadapi situasi “kebaikan berubah menjadi keburukan”. Misalnya, Anda memasang order jual 10 BNB dengan limit $600, saat ini harga $500. Seminggu kemudian BNB naik ke $700, dan order limit $600 Anda terpenuhi—terlihat menguntungkan, tetapi sebenarnya Anda melewatkan peluang menjual di harga lebih tinggi, misalnya $700. Oleh karena itu, penting untuk secara rutin memeriksa dan menyesuaikan order terbuka sesuai kondisi pasar.
Limit Order vs Jenis Order Lainnya
Limit Order vs Stop Loss
Stop loss adalah order pasar yang dipicu saat harga mencapai titik stop loss Anda. Kedengarannya mirip, tetapi logika eksekusinya berbeda. Limit order dieksekusi sesuai harga limit yang Anda tetapkan (atau lebih baik), sedangkan stop loss berubah menjadi order pasar saat dipicu, dan dieksekusi pada harga pasar saat itu. Jika pasar melonjak secara tiba-tiba, stop loss Anda mungkin dieksekusi jauh di bawah harga yang diharapkan.
Limit order digunakan untuk secara aktif menunggu harga terbaik, sementara stop loss digunakan untuk secara pasif melindungi risiko—satu untuk serangan, satu untuk pertahanan.
Limit Order vs Stop-Limit
Stop-limit adalah gabungan: pertama menunggu harga stop tercapai, lalu otomatis membuat limit order. Misalnya BNB saat ini $600, Anda pasang stop-limit dengan stop price $590 dan limit price $585. Ketika BNB turun ke $590, sistem otomatis memasang order jual di $585.
Perbedaan utama adalah: limit order langsung masuk ke order book, sedangkan stop-limit hanya masuk setelah stop price tercapai. Ini berarti stop-limit berisiko “trigger tapi tidak ada yang ambil”—pasar bisa melompati limit price Anda secara mendadak, dan order bisa batal.
Kapan Menggunakan Limit Order Beli?
Situasi berikut cocok untuk strategi buy limit:
Saran Praktis
Ketidakpastian Eksekusi: Meski harga mencapai limit, tidak ada jaminan 100% order akan terisi. Likuiditas pasar yang rendah, lonjakan harga cepat, dan faktor lain bisa menyebabkan sebagian atau seluruh order tidak terisi.
Keuntungan Biaya yang Jelas: Sebagai maker, order Anda menyediakan likuiditas pasar, dan exchange biasanya memberi insentif biaya lebih rendah.
Kesabaran Berbuah Manis: Dibandingkan order pasar yang langsung dieksekusi, limit order membutuhkan waktu tunggu, tetapi jika parameter diatur dengan baik, hasil jangka panjang bisa lebih stabil.
Secara keseluruhan, limit order adalah alat penting dalam kotak peralatan trading. Menguasai logika buy limit dan sell limit, serta menyesuaikan dengan rencana trading dan toleransi risiko Anda, dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi dan hasil trading.